Thursday, March 12, 2020

IFLA LRM Relationship Overview

Table below summarizes in a concise tabular form the relationships defined in the model. All relationships are refinements of the top-level relationship (LRM-R1), which is given in the first row of the first column. All the other relationships defined in the model are at the same level and are given in the second column. In an expansion of the model, additional second level relationships, as well as relationships at still lower hierarchy levels, may be defined. To make the listing more compact, only the relationship names are given, the inverse names are omitted.




IFLA LRM Relationship Hierarchy
Top Level

Second Level
LRM-R1
RES is associated with RES

--

LRM-R2
WORK is realized through EXPRESSION
--

LRM-R3
EXPRESSION is embodied in MANIFESTATION
--

LRM-R4
MANIFESTATION is exemplified by ITEM
--

LRM-R5
WORK was created by AGENT
--

LRM-R6
EXPRESSION was created by AGENT
--

LRM-R7
MANIFESTATION was created by AGENT
--

LRM-R8
MANIFESTATION was manufactured by AGENT
--

LRM-R9
MANIFESTATION is distributed by AGENT
--

LRM-R10
ITEM is owned by AGENT
--

LRM-R11
ITEM was modified by AGENT
--

LRM-R12
WORK has as subject RES
--

LRM-R13
RES has appellation NOMEN
--

LRM-R14
AGENT assigned NOMEN
--

LRM-R15
NOMEN is equivalent to NOMEN
--

LRM-R16
NOMEN has part NOMEN
--

LRM-R17
NOMEN is derivation of NOMEN
--

LRM-R18
WORK has part WORK
--

LRM-R19
WORK precedes WORK
--

LRM-R20
WORK accompanies / complements WORK
--

LRM-R21
WORK is inspiration for WORK
--

LRM-R22
WORK is a transformation of WORK
--

LRM-R23
EXPRESSION has part EXPRESSION
--

LRM-R24
EXPRESSION is derivation of EXPRESSION
--

LRM-R25
EXPRESSION was aggregated by EXPRESSION
--

LRM-R26
MANIFESTATION has part MANIFESTATION
--

LRM-R27
MANIFESTATION has reproduction MANIFESTATION
--

LRM-R28
ITEM has reproduction MANIFESTATION
--

LRM-R29
MANIFESTATION has alternate MANIFESTATION
--

LRM-R30
AGENT is member of COLLECTIVE AGENT
--

LRM-R31
COLLECTIVE AGENT has part COLLECTIVE AGENT
--

LRM-R32
COLLECTIVE AGENT precedes COLLECTIVE AGENT
--

LRM-R33
RES has association with PLACE
--

LRM-R34
PLACE has part PLACE
--

LRM-R35
RES has association with TIME-SPAN
--

LRM-R36
TIME-SPAN has part TIME-SPAN

Tuesday, March 3, 2020

Struktur Hirarki LRM

Table below shows in tabular form the superclass and subclass relationships defined between the entities.. The model includes a single top-level entity (res), shown in the first column of the table; all other entities are direct or indirect subclasses of res. The eight entities that are direct subclasses of res are shown in the second column: work, expression, manifestation, item, agent, nomen, place, time-span. The third column shows the two entities that are subclasses of the entity agent: person and collective agent. 

[Free Indonesian Translation]
Tabel di bawah ini memperlihatkan bagaimana hubungan superclass dan subclass didefinisikan dalam entitas. Model ini mencakup entitas level paling atas (res) yang berada pada kolom 1 dan semua entitas lainnya merupakan subclass dari res baik secara langsung maupun tidak langsung. 8 entitas yang berada di kolom 2 adalah subclass dari res, yaitu, work, expression, manifestation, item, agent, nomen, place, time-span. Sedangkan dua entitas yang merupakan subclass dari entitas agent adalah person dan collective agent, berada pada kolom 3.




 (IFLA LRM 2017-12: 18-19)

Wednesday, February 19, 2020

IFLA Library Reference Model (LRM): A new conceptual model for RDA

"Inevitably the three FR models, although all created in an entity-relationship modelling framework, adopted different points of view and differing solutions for common issues. Even though all three models are needed in a complete bibliographic system, attempting to adopt the three models in a single system required solving complex issues in an ad hoc manner with little guidance from the models. Even as FRAD and FRSAD were being finalized in 2009 and 2010, it became clear that it would be necessary to combine or consolidate the FR family into a single coherent model to clarify the understanding of the overall model and remove barriers to its adoption." (IFLA Library Reference Model A Conceptual Model for Bibliographic Information, 2017 : 5)

IFLA LRM builds on existing models, but resolves inconsistencies and has more general approach, broadens coverage. Modelling decisions (Gentili-Tedeschi, 2017):
  • High-level conceptual model (i.e. general)
  • Framework that can be expanded (extended)
  • Used entity-relationship modelling language (entities, attributes, relationships)
  • Model the data needed to fulfil user tasks, not library operations
***

[Free translation in Indonesian]
"Meskipun tiga model FR (baca: FRBR, FRAD, FRSAD) dibangun di atas framework pemodelan hubungan entitas, namun tidak dapat dihindari bahwa model ini memiliki sudut pandang dan solusi yang berbeda-beda dalam menjawab masalah-masalah yang bersifat umum. Dan meskipun ketiga model ini dibutuhkan dalam sistem bibliografi, namun mengadopsi seluruh model dalam satu sistem tunggal akan tetap membutuhkan penyelesaian atas masalah yang bersifat kompleks melalui cara-cara ad hoc (tambahan) dengan panduan minimal dari model tersebut. Bahkan setelah FRAD dan FRSAD difinalisasi tahun 2009 dan 2010, situasinya menjadi semakin jelas akan perlunya mengkombinasikan atau mengkonsolidasikan seluruh model FR ke dalam satu model tunggal untuk memperjelas pemahaman akan seluruh model dan menghilangkan hambatan-hambatan dalam proses pengadopsiannya." (IFLA Library Reference Model A Conceptual Model for Bibliographic Information, 2017: 5)

IFLA LRM dibangun di atas model yang sudah ada namun lebih dapat menyelesaikan permasalahan ketidakkonsistenan dan menggunakan pendekatan yang lebih umum. Model ini didesain sebagai (Gentili-Tedeschi, 2017):
  • Model konseptual tingkat tinggi
  • Framework yang dapat diperluas
  • Menggunakaan bahasa pemodelan hubungan entitas
  • Data lebih ditujukan untuk memenuhi tugas pengguna, bukan operasional perpustakaan.
FRBR Relationship (Was)


LRM Relationship (Now)




Wednesday, December 4, 2019

Sejarah Perkembangan AACR menjadi RDA

Sejarah perkembangan AACR menjadi RDA
Sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1967 sampai dengan terakhir direvisi pada tahun 2002, Anglo American Cataloging Rules atau AACR telah digunakan sebagai pedoman pengatalogan dalam dunia perpustakaan. Selama lebih dari tiga dekade, AACR telah berkembang, beradaptasi, dan berevolusi untuk merespon tantangan dunia informasi. Teknologi informasi membuat dunia bibliografi berkembang cepat dan semakin kompleks  pada 3 aspek yaitu: content, packaging, dan pola distribusinya. Perubahan ini membuat AACR selalu berada dalam tekanan, di satu sisi AACR dianggap terlalu lambat untuk bereaksi terhadap perkembangan dunia informasi, namun pada sisi lain kelemahan struktur logis AACR menjadi  masalah utama yang harus diselesaikan.

IFLA mengidentifikasi adanya kelemahan struktur logis pada AACR awal 90-an. Untuk mengatasi hal tersebut IFLA membentuk sebuah tim untuk mendefinisikan kembali konsep dan tujuan dari pengatalogan yaitu dengan cara mengidentifikasi aspek-aspek penting dalam dunia bibliografi kemudian menghubungkannya dengan perilaku penelusuran informasi dalam sebuah sistem pengatalogan. Dari sinilah kemudian muncul model konseptual Functional Requirement for Bibliographic Record atau FRBR sebagai suatu metode yang baru untuk memahami dunia bibliografi. FRBR itu sendiri bukanlah sebuah standar pengatalogan yang berisi aturan-aturan deskripsi bibliografi melainkan sebuah model konseptual yang menjadi basis dalam menyusun standar pengatalogan. FRBR inilah yang kemudian menjadi fondasi intelektual dari RDA.

Friday, November 29, 2019

Cataloging Tips - DVD

DVD Film Soekarno
Perubahan yang cukup mendasar dalam RDA adalah dihilangkannya konsep GMD yang biasa digunakan pada field 245,  subfield "h" dan digantikan dengan 3 field tambahan 336,337, dan 338, yaitu content type, media type, dan carrier type.

Content type adalah “kategorisasi dari bentuk komunikasi untuk menyampaikan ide dari hasil karya intelektual, misalnya berupa text, spoken word, gambar bergerak, performance, dan lain sebagainya.
Media type kategorisasi dari alat intermediasi yang digunakan untuk melihat, memutar, atau menjalankan content-content hasil karya intelektual atau artistik, misal audio, computer, video.
Carrier type adalah kategorisasi format media penyimpanan untuk content hasil karya intelektual, misalnya audiodisc atau audiocassete

Pada DVD film Soekarno, AACR menggunakan istilah GMD pada field 245. Namun, kini RDA menghilangkan GMD dan menggantinya dengan content type, media type), dan 338 (carrier type). Alasan RDA menghilangkan GMD adalah karena RDA berorientasi pada content sehingga informasi mengenai format dimasukan dalam elemen yang terpisah. Kedua, ketidakkonsistenan AACR dalam penerapan GMD, ada istilah GMD yang mengacu pada content misalnya, music, kartografi, dan ada yang mengacu pada format, seperti micorform, electronic resource. RDA meluruskan ketidakkonsistentan dengan tiga field memisahkan content dan format. Ketiga, RDA memudahkan kataloger ketika mendeskripsikan suatu bahan pustaka karena tidak lagi menghadapi persoalan bias format koleksi.

Field 336 atau content type bersifat repeatable dan bisa digunakan untuk mendeskripsikan unsur-unsur dominan dari suatu content, misalnya sebuah buku berilustrasi, maka pada content typenya text dan still image.

Thursday, November 28, 2019

FRBR dalam Novel & DVD Laskar Pelangi

Hubungan FRBR dalam Novel & DVD Laskar Pelangi
Analisis hubungan antar entitas grup FRBR pada Novel dan DVD Laskar Pelangi dapat dijelaskan sebagai berikut:
  • Work adalah ide atau konsep cerita novel supernova yang kemudian direalisasikan dalam bentuk teks atau novel berbahasa Indonesia yang disebut sebagai expression. 
  • Apabila novel tersebut memiliki versi bahasa Inggris dan juga misalnya memiliki versi audio book atau rekaman suara, maka itu akan menjadi expression baru dari work yang sama. Mengapa? Karena peran penerjemah dalam novel versi bahasa Inggris hanya menerjemahkan saja tidak dan tidak mengubah ide cerita. Begitu juga pada versi rekaman suara, peran narator hanya membacakan saja dan tidak memodifikasi cerita dari novel tersebut. Akan berbeda halnya apabila novel supernova tersebut diadaptasi menjadi sebuah film, maka film tersebut dianggap sebagai work atau karya intelektual yang baru. Mengapa? Karena pada film peran sutradara, penulis naskah, artis, musisi, menjadi lebih dominan dan biasanya juga konsep cerita sudah dimodifikasi. 
  • Apabila novel tersebut diterbitkan oleh penerbit menjadi sebuah buku maka itu disebut manifestation. Manifestation tidak terbatas pada wujud fisik saja, tapi bisa juga objek virtual seperti PDF file. Pada level manifestation-lah, kataloger baru bisa membuat deskripsi bibliografi karena pada level ini telah  memiliki data bibliografi  seperti judul, pengarang, penerbit, deskripsi fisik, dsb.
  • RDA memiliki basis konsep data modelling lebih kuat sehingga memudahkan kita mengidentifikasi hubungan dari suatu hasil karya, misalnya pada equivalent relationship atau duplikasi dari satu hasil karya, misalnya ada karya alih media, reproduksi, dan derivative relationship. Proses identifikasi seperti ini sangat sulit dilakukan jika menggunakan AACR.

FRBR dalam Novel Lord of the Ring

FRBR dalam novel LOTR


Friday, November 22, 2019

Entity Relationship Model in Cataloging #3

Figure 1. Bilingual novel in Indonesian and English

Figure 2. MARC record

Entity Relationship Model in Cataloging #2

Figure 1. A novel, two titles in one manifestation

Figure 2. MARC record

Figure 3. Catalog view

Thursday, November 21, 2019

Entity Relationship Model in Cataloging #1

Figure 1. A work available in print and online

Figure 2. MARC record

Figure 3. Catalog view