Thursday, December 9, 2021

LRM E-2 Work

Gambar di atas memperlihatkan perubahan definisi entitas “Work” dalam LRM jika dibandingkan definisi aslinya pada FRBR. Penambahan kata "content of" membuat definisi entitas "Work" menjadi lebih spesifik yang tidak hanya hanya hasil karya secara utuh tetapi juga konten dari sebuah hasil karya. Ide pemikiran ini sebenarnya telah digunakan RDA untuk mendefinisikan entitas “Work”, yaitu dengan mengubah kata “creation” menjadi “content.”

Baik LRM maupun RDA sama-sama mempertahankan gagasan tentang “hasil karya yang berbeda” (a distinct creation) untuk menjelaskan bahwa sebuah "Karya" harus unik dan berbeda dari karya yang lainnya. Konsep ini berbeda dengan BIBFRAME di mana  penyebutan frase "resource reflecting a conceptual essence” (sumber daya mencerminkan esensi konseptual” adalah penggabungan konsep “Work” dan “Expression”. 

Dalam BIBFRAME, konsep “Expression” FRBR dipetakan ke dalam konsep “Work” dan keduanya merupakan satu kesatuan. Konsep ini memposisikan sebuah hasil karya dalam BIBFRAME sebagai tingkat abstraksi yang paling tinggi. Hasil karya dalam pengertian BIBFRAME mencerminkan esensi konseptual dari bahan yang dikatalog, antara lain penulis, bahasa, dan subjek. Hal ini disebabkan karena BIBFRAME didesain sebagai transisi  dari format MARC21 ke format deskripsi bibliografi berbasis linked data sehingga kombinasi ini memungkinkan transisi  dari format yang tidak berdasarkan WEMI menjadi lebih mudah.

Thursday, December 2, 2021

LRM-E1 Res dan Thema

"Res" adalah entitas baru yang diperkenalkan dalam model LRM. "Res" menempati level paling tinggi dalam hierarki LRM dan menginduki semua entitas dibawahnya. Dalam dokumen IFLA LRM disebutkan bahwa "Res" merupakan superclass dari semua entitas yang ada dalam LRM, baik yang telah didefinisikan secara eksplisit maupun yang  belum memiliki label spesifik. FRSAD pernah memperkenalkan konsep "Thema" dan mendefinisikannya sebagai entitas apa saja yang digunakan sebagai subyek dari hasil karya. Dalam LRM, pengertian ini dimodifikasi menjadi lebih general sehingga meliputi seluruh entitas yang ada di alam wacana/pemikiran dan mengubah namanya menjadi "Res" (Latin) atau  yang berarti "Thing" (Inggris). Penggunaan istilah “alam wacana” oleh RDA dalam mendefinisikan pengertian entitas dan "Res", semakin memperjelas setiap entitas RDA merupakan ekuivalen dari "Res". Hal ini berbeda dengan BIBFRAME yang tidak memiliki padanan seperti "Res" atau "Thema".

Tuesday, November 30, 2021

MARC, ISBD, AACR, FRBR, RDA, BIBFRAME, RDF, LRM: Evolusi dan Keterkaitannya

Dengan diperkenalkannya FRBR ((Functional Requirements for Bibliographic Records) pada tahun 1998, IFLA (International Federation of Library Associations and Institutions) memperkenalkan sebuah model konseptual baru. FRBR kemudian segera diikuti oleh FRAD (Functional Requirements for Authority Data) dan FRSAD (Functional Requirements for Subject Authority Data). Dengan kehadiran LRM (IFLA Library Reference Model) dan dua standar pendeskripsian lainnya, yaitu RDA Toolkit dan BIBFRAME, dapat membantu cataloger dalam memahami model hubungan entitas dalam kegiatan pendeskripsian bibliografi secara lebih baik. 

Ketika komputer mulai diperkenalkan untuk pengorganisasian informasi, Henriette Davidson Avram, seorang programmer dan analis sistem berhasil mengembangkan format MARC (Machine-readable cataloguing) pada akhir 1960-an. MARC kemudian menjadi standar internasional untuk pertukaran data bibliografi dalam dunia perpustakaan dan informasi. Pada periode yang hampir bersamaan, standar pengatalogan AACR ( Anglo-American Cataloguing Rules) diterbitkan dan edisi keduanya diterbitkan pada tahun 1978. Standar kunci lain yang muncul dalam periode ini adalah International Standard Bibliographic Description for monographic publications (ISBD) yang diterbitkan pada tahun 1971. Standar-standar ini mendominasi aktivitas pengatalogan di Amerika Serikat dan negara-negara lain selama beberapa dekade. 

Kemajuan teknologi yang terjadi pada dekade tersebut semakin mendorong penggunaan komputer dan database online secara masif, seperti OCLC (Online Computer Library Center) dan RLIN (Research Libraries Information Network) untuk mengotomatiskan proses katalogisasi. Selain itu, jumlah dan variasi jenis sumber daya bibliografi yang memerlukan pengatalogan mengalami pertumbuhan secara eksponensial. Peningkatan jumlah terbitan secara global dan kebutuhan perpustakaan untuk mendeskripsikan terbitan tersebut dengan cepat memiliki konsekuensi perlunya penetapan standar pengatalogan tingkat minimal. Untuk alasan ini, IFLA memutuskan untuk mengadopsi standar pengatalogan baru yang lebih berorientasi pada pemrosesan mesin dan aspek manusia. Standard yang dimaksud tertuang dalam publikasi FRBR, FRAD, dan FRSAD.

Studi yang dilakukan IFLA pada tahun 1997 menghasilkan model FRBR yang lebih berfokus dalam memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Kerangka kerja FRBR dibangun di atas landasan tentang bagaimana data yang terkandung dalam cantuman bibliografi  dapat mendukung tugas pengguna, yaitu untuk menemukan, mengidentifikasi, memilih, dan mendapatkan. Konsep tersebut masih tetap relevan hingga saat ini dan telah mengalami pengembangan lebih jauh. Studi juga menemukan bahwa cara terbaik untuk mengidentifikasi bagaimana cantuman bibliografi (dan authority data) dapat memenuhi tugas-tugas ini adalah dengan menggunakan model ERM (Entity Relationship Model) yang dikembangkan oleh Peter Pin-Shan Chen pada tahun 1976.

Teknik analisis entitas FRBR diawali dengan mengisolasi entitas yang menjadi objek kunci dalam cantuman bibliografi. Setelah itu, mengidentifikasi karakteristik atau atribut dari setiap entitas dan hubungan antar entitas yang dianggap penting bagi pengguna dalam merumuskan pencarian bibliografi, mengintepretasikan respon dari hasil penelusuran informasi, dan melakukan navigasi di alam entitas cantuman bibliografi. Sekumpulan entitas kunci yang diperkenalkan oleh model FRBR dikenal sebagai WEMI (Work, Expression, Manifestation, dan Item). Entitas ini tetap dipertahankan dalam konsep pemodelan baru yang dinamakan LRM (Library Reference Model), juga dalam implementasi modern lainnya seperti RDA dan BIBFRAME (Bibliographic Framework).

Dalam perkembangannya, FRBR, FRAD, dan FRSAD kemudian digantikan oleh IFLA LRM yang berakibat pada restrukturisasi RDA Toolkit. Pada bagian pendahuluan draft final LRM 2017 dinyatakan bahwa, “Pemodelan LRM mempertimbangkan aspek-aspek informasi bibliografi yang berkaitan dengan semua jenis bahan pustaka dan sumber daya informasi lainnya yang menjadi perhatian bagi perpustakaan. Model ini berusaha untuk mengungkapkan kesamaan dan struktur yang mendasari sumber bibliografi.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa LRM mendefinisikan ruang lingkup yang luas untuk deskripsi bibliografi dan dimaksudkan sebagai sebuah format yang agnostik.

Library of Congress (LC) dan sejumlah lembaga mitra kini tengah mengembangkan dan menguji BIBFRAME untuk menghasilkan model linked data. Dari beberapa model yang diuji dalam proyek ini, BIBFRAME adalah yang paling jelas dirancang untuk produksi linked metadata RDF (Resource Description Framework). RDF adalah sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mendeskripsikan sumber daya informasi yang tersedia melalui web dan dirancang untuk dapat dibaca dan dipahami oleh komputer. 

Proses mengekspresikan RDF dalam bahasa komputer dikenal sebagai serialisasi (serialization), dan XML (Extensible Markup Language) adalah format serialisasi paling populer untuk RDF. XML memperluas struktur keterhubungan web dalam menamakan dan mengaitkan hubungan antar objek yang biasanya disebut sebagai triples. Langkah pertama adalah membuat sebanyak mungkin daftar terkendali  makro ( LCSH, Name Authority File, dll.) dan daftar terkendali mikro (kode bahasa, konten dan media, dll.) agar bisa digunakan dalam aplikasi linked data. Daftar kosakata terkendali yang akan digunakan untuk pendeskripsian bibliografi ini perlu diubah dari format cetak atau web ke dalam RDF agar tautan mereka dapat direferensikan oleh URI (Uniform Resources Identifier) dan deskripsinya dapat diakses dalam RDF. Layanan linked data LC (Library of Congress) mulai dikembangkan pada tahun 2007. Tujuannya adalah untuk membuat tautan menjadi otomatis dan dapat lebih ditingkatkan. Layanan ini kemudian dilanjutkan dengan proyek BIBFRAME yang secara eksplisit dirancang untuk membuat RDF triples, entitasnya dan definisinya berbeda dengan RDA. Karena RDA telah dimodifikasi untuk kebutuhan LRM, maka model hubungan entitasnya dianggap lebih bersahabat dengan RDF triples. Pada dasarnya RDF triples adalah metadata yang dibangun dengan struktur "entitas-hubungan-entitas" klasik. Contohnya adalah sebagai berikut: "Charles Dickens"—"adalah penulis"— "Bleak House," yang mengungkapkan hubungan Charles Dickens dengan karyanya yaitu "Bleak House."

(Diterjemahkan secara bebas dengan beberapa perubahan redaksional dari artikel "Bibliographic Conceptual Models and Implementations : Definitions, Evolution, and Relationships" oleh Michele Seikel and Thomas Steele, dimuat dalam Library Resources & Technical Services vol. 64, no. 2 (April 2020)

Wednesday, October 6, 2021

Mendeklarasikan Hubungan Entitas LRM

 

Format dasar cara mendeklarasikan hubungan entitas dalam LRM menggunakan format sebagai berikut:Entitas A dalam kurung siku kemudian nama relationship dalam kurung sudut dan Entitas B dalam dalam kurung siku, di mana Entitas A berasal domain spesifik tertentu dan Entitas B berasal range spesifik tertentu. Setiap relationship mempunya inverse relationship atau hubungan kebalikannya, misalnya Agent created Work memiliki inverse relationship Work created by Agent

Kardinalitas Entitas LRM

 

Setiap hubungan entitas dalam LRM memiliki kardinalitas untuk menyatakan banyaknya anggota dari sebuah himpunan atau banyaknya range dari sebuah domain entitas tertentu. Misalnya sebuah Res mencakup konsep abstrak maupun objek fisik memiliki penyebutan Nomen. Nomen adalah asosiasi antara entitas dan sebutan yang merujuk padanya dan Nomen merupakan kosakata terkendali. Sebagai contoh, sebuah entitas Person, Habibie (mantan Presiden RI) yang menggunakan string B.J Habibie memiliki kemungkinan beberapa teks string lainnya, misalnya di Rusia name authority untuk string B.J Habibie menggunakan bahasa Rusia, demikian juga di Jepang memiliki format text string-nya dalam bahasanya sendiri. Jadi, sebuah Res dalam hal ini Person memiliki sejumlah Nomen dalam bentuk text string. Dengan mengkonsolidasikan hubungan kardinalitas dalam pemodelan seperti ini maka dapat mengoptimalkan RDA linked data. 

LRM dan Sistem Informasi Bibliografi


Mirip seperti FRBR, titik tolak LRM bermula dari adanya user tasks atau tugas pengguna yang harus difasilitasi dan didukung oleh sistem informasi bibliografi. Pada LRM, definisi tugas pengguna telah mengalami perubahan definisi dan ditambah satu tugas lagi yaitu explore. Definisi yang dijelaskan dalam konsep LRM dapat memberikan batasan-batasan yang lebih jelas dan dapat berfungsi sebagai titik awal pendefinisian entitas, atribut, dan relationship.

Untuk membantu menfasilitasi tugas ini, maka diupayakan sistem informasi bibliografi perlu dirancang untuk dapat: 

  1. Melakukan pencarian efektif dengan menyiapkan elemen-elemen atau fungsionalitas pencarian yang sesuai
  2. Mendukung penilaian relevansi dengan menyediakan informasi yang memadai tentang resources yang ditemukan sehingga pengguna dapat membuat pilihan dan melakukan tindakan selanjutnya
  3. Menyediakan link ke sumber informasi online atau informasi lokasi tempat fisik dari sebuah koeksi berada, termasuk instruksi dan informasi akses yang diperlukan untuk melakukan transaksi atau batasan-batasan yang ditetapkan untuk mengaksesnya. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah menghubungkan antara satu resource dengan resource lain dan membuat koneksi-koneksi yang tidak terduga

LRM Superclass dan Subclass

 

LRM mengunakan struktur hierarkis superclass dan subclass yang diexpresikan melalui "is-A" relationship dalam pemodelan formalnya. Para ahli mengatakan bahwa model ini merupakan mekanisme yang sangat efektif dalam menyederhanakan hubungan antar entitas.  Atribut pada entitas yang berada di atas akan diturunkan pada subclass yang berada dibawahnya tanpa adanya pengulangan atau repitisi. 

Entitas tunggal yang berada pada level paling tinggi adalah Res, sementara itu semua entitas lain yang berada dibawahnya merupakan subclass dari Res baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebanyak 8 entitas adalah subclass langsung dari Res berada pada second level: Work, Expression, Manifestation, Item, Agent, Nomen, Place, Time-span. Kolom third-level memperlihat dua entitas yang merupakan subclass dari entitas Agent, yakni Person dan Collective agent. Namun, Family dan Corporate body tidak lagi termasuk entitas)

Wednesday, March 24, 2021

Dampak Library Refence Model (LRM) terhadap RDA

Perubahan model konseptual dari FRBR ke LRM berdampak secara signfikan pada RDA, antara lain:

  • Pendefinisian ulang dari konsep entitas, user-task, relationship dan lain-lain
  • Perubahan struktur model hierarki entitas menjadi struktur tunggal yang lebih dengan menggunakan istilah superclass dan subclass. Penekanan pada aspek relasional data dengan menggunakan konsep "is-A" relationship
  • Selain mewarisi sejumlah entitas dari FRBR, ada beberapa penambahan entitas baru, yaitu (Res, nomen, agent, collective agent, place, time span). Res adalah entitas tertinggi dalam hierarki yang dapat berupa konsep abstrak maupun objek fisik. Nomen hubungan antara entitas dengan sebutan yang merujuk padanya. Dalam konsep LRM, Agent merupakan entitas superclass, yang menjadi superior dari dua entitas subclass dibawahnya, yaitu person dan collective agent, di mana collective agent terdiri family dan corporate body. Namun, family dan corporate body tidak lagi dianggap sebagai entitas karena tidak memiliki atribut spesifik dan relationship
  • Beberapa entitas dan istilah mulai tidak lagi digunakan dalam aturan pendeskripsian, antara lain, Family, Corporate Body, Identifier, Controlled Access Point, Rules, Agency, Concept, Object, Event
  • Dampak yang paling besar dari penerapan LRM adalah dilakukannya penyusunan ulang struktur dan desain RDA yang dikenal sebagai 3R project (RDA Redesign and Restructure). Project ini dilakukan agar RDA selaras dengan konsep LRM dengan cara memperbaiki struktur data yang mendasari RDA, membuat instruksi-instruksi lebih general, dan mengembangkan pendekatan baru untuk relationship designators

Tuesday, March 23, 2021

LRM sebagai Landasan RDA


Library Reference Model (LRM) yang dikembangkan oleh IFLA adalah model konseptual tingkat tinggi yang mengkonsolidasi tiga model sebelumnya, yaitu FRBR, FRAD, dan FRSAD. Harmonisasi ketiga model konseptual tersebut dilakukan dengan mencari commonalities (keumuman) dalam struktur sumber daya bibliografis. Karena merupakan hasil konsolidasi, maka LRM masih mewarisi sejumlah konsep entitas dan relationship dari model sebelumnya, yaitu dengan mempertahankan sejumlah entitas dan melakukan penambahan beberapa entitas baru, seperti Res, Nomen, dan Agent. Selain itu, dilakukan pula perubahan struktur hierarki dan penetapan definisi baru terhadap sejumlah konsep.

Setelah melalui berbagai proses pengujian dan evaluasi, maka telah menjadi kesepakatan internasional bahwa LRM menjadi dasar untuk membuat peraturan pengatalogan dan sistem bibliografi. Namun demikian, model ini tidak terikat pada standar manapun karena tujuannya adalah untuk membuat konsep semantik umum yang tidak ambigu. Dan yang perlu digaris bawahi adalah bahwa LRM ini sangat dipengaruhi oleh teknologi web semantik untuk mengakomodasi kebutuhan komunitas RDA linked data.

Perubahan FRBR menjadi LRM

Ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi perubahan model konseptual dari Functional Requirement for Bibliographic Record (FRBR) ke Library Reference Model (LRM). Jika dirunut ke belakang, pada awalnya IFLA mengembangkan model konseptual FRBR, kemudian dari sini lahir dua model perluasan yaitu FRAD dan FRSAD. Ketiga model ini saling berkaitan erat karena itu sering disebut sebagai FRBR family. Meskipun demikian, ketiga model konseptual ini dikembangkan secara terpisah oleh tim yang berbeda-beda. Dalam penerapannya di perpustakaan, ada beberapa permasalahan pada model konseptual ini, antara lain:

  • Kesulitan perpustakaan harus mengaplikasikan 3 model ini secara bersamaan, kemudian muncul pertanyaan bagaimana cara mengintegrasikan model ini dalam satu aplikasi. Tidak ada panduan untuk mengatasi kontradiksi yang ada sehingga menyebabkan intepretasi yang tidak konsisten pada penerapannya. 
  • Tingkat granularitas elemen data yang berbeda-beda pada masing-masing grup. Sebagai contoh, FRBR terdiri dari 11 entitas, sedangkan FRSAD hanya terdiri dari 1 entitas (thema)
  • Adanya perbedaan dalam cara memahami entitas pada masing-masing grup. Sebagai contoh, pada FRBR yang dimaksud entitas person adalah individu real yang masih hidup maupun yang sudah tidak ada, sedangkan pada FRAD yang dimaksud entitas person adalah individu real dan karakter fiktif

Sebelum  menjadi LRM sebenarnya sudah FRBR sudah sempat berubah menjadi menjadi FRBRoo (Functional Requirement for Bibliographic Record Object Oriented), untuk mengakomodasi kebutuhan pengatalogan di sektor museum. Perubahan ini terjadi setelah IFLA menerima berbagai masukan dari museum yang disusun dalam  dokumen Conceptual Reference Model (CIDOC CRM) for Museum Information. Namun dalam perjalanannya, pemodelan FRBRoo formal masih sulit diterapkan oleh museum karena konsepnya dianggapp masih berlandaskan formalisme FRBR yang dianggap terlalu spesifik. Akhirnya IFLA memutuskan mengubah konsep FRBR menjadi model tingkat tinggi dengan mengedepankan aspek keumuman (commonalities) dalam pendeskripsian agar tidak lagi terlalu spesifik sehingga bisa diterapkan secara optimal oleh museum. Model inilah yang kemudian dinamakan IFLA LRM yang disepakati secara internasional sebagai dasar penyusunan peraturan pengatalogan dan sistem informasi bibliografi, termasuk RDA.