Friday, March 18, 2016

Resource Description & Access (RDA): kerangka teoritis dan implementasinya di National Library of Australia (oleh Wishnu Hardi). Makalah disampaikan pada Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke-8, Bogor, 4 November 2015

Abstrak
Resource Description and Access (RDA) was developed as a new generation cataloguing code, designed for digital world. It provides a set of guidelines and instructions for the description of all types of resources, including analogue, digital and online. The descriptions will be usable in digital environment, in web based catalogues, and in resource discovery services. The National Library of Australia (NLA) fully implemented RDA in March 2013 after 4 years of preparation. Up to present, nearly 7500 Indonesian records comprising monographs, serials, electronic resources, and ephemera have been catalogued by the NLA through its office in Jakarta and can be accessed in NLA’s catalogue and World Cat. This presentation provides an overview of the theoretical framework of RDA and its underlying structure, Functional Requirement of Bibliographic Records (FRBR). Essential differences between RDA and AACR2 are also outlined. This includes examples of RDA cataloguing practice for Indonesian titles held by the National Library of Australia.

Pendahuluan
RDA adalah standar pengatalogan baru yang menggantikan AACR2 yang mulai diperkenalkan pada tahun 2010 dan secara resmi diimplementasikan pada bulan Maret 2013. Perluya perubahan dalam standar pengatalogan sudah dirintis sejak diselenggarakannya International Conference on Principles and Future of Development of AACR2 di Toronto, Canada pada tahun 1997. Perubahan ini didasari pada kebutuhan perlunya sebuah standar pengatalogan yang dapat merespon perkembangan pesat dunia informasi. Tantangan dunia bibliografi kini tidak hanya terletak pada munculnya beragam bentuk baru informasi dan media penyimpanannya tetapi juga keterkaitan konten antara satu karya dengan karya lainnya. Ada dua persoalan utama dalam AACR2 yang mengemuka dan memicu perdebatan di kalangan pustakawan, yang pertama adalah permasalahan struktur AACR2 untuk pendeskripsian konten dan format yang dianggap kurang fleksibel terhadap format media penyimpanan yang semakin kompleks. Yang kedua adalah relevansi peran AACR2 yang dilahirkan di era katalog kartu dalam perkembangan jagat informasi online saat ini.

Pada bulan April 2005, Joint Steering Committee for the Revision of AACR (JSC) dan organisasi induknya, Committee of Principals (CoP) menerima banyak masukan dari hasil peninjauan draft revisi part I AACR3 yang pada intinya agar mengubah pendekatan dalam melihat struktur revisi AACR3.Setelah mempertimbangkan berbagai alternatif, JSC akhirnya memutuskan untuk menyusun standar pengatalogan baru yang berisi panduan dan instruksi untuk pembuatan deskripsi dan akses untuk materi analog maupun digital. Pemberian nama baru, RDA – Resource Description and Access, secara jelas merefleksikan perubahan tersebut.

Perkembangan RDA di Konteks Internasional
Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 1978, AACR2 telah mengalami beberapa kali revisi. Pada International Conference on Principles and Future of Development of AACR2, para ahli pengatalogan mengidentifikasi adanya permasalahan substansial yang tidak bisa diatasi hanya dengan melakukan berbagai revisi. Fakta tersebut mendorong Joint Steering Committee (JSC) melakukan penataan ulang secara fundamental agar standar pengatalogan dapat merespon tantangan dan peluang dunia digital.

AACR2 terdiri bab-bab khusus yang mengatur standar pengatalogan untuk monograf, terbitan berseri, rekaman suara, gambar bergerak, dan lain sebagainya. Perbedaan jenis pustaka kini semakin bias seiring perkembangan teknologi informasi dan multimedia. Banyak terminologi AACR2 masih merefleksikan era katalog kartu, misalnya “heading”, “main entry”, dan “item in hand”. Memodifikasi istilah sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini dianggap belum cukup untuk menjadikan AACR2 relevan dengan dunia digital.

RDA dikembangkan oleh Joint Steering Committee (JSC) for Development of RDA yang merupakan representasi dari American Library Association, Australian Committee on Cataloguing, British Library, Canadia Committee on Cataloguing, Chartered Institute of Library and Information Professionals, dan Library of Congress. Sedangkan badan yang mensupervisi proyek pengembangan RDA secara keseluruhan adalah The Committee of Principals (CoP) yang terdiri dari institusi-institusi tersebut di atas plus Library and Archives Canada. Proyek ini juga melibatkan Co-Publishers, yakni  American Library Association, Canadian Library Association, dan Chartered Institute of  Library and Information Professionals yang bertugas memberikan dukungan untuk masalah finansial dan produksi.

Kemunculan RDA didorong oleh adanya fakta bahwa perpustakaan kini beroperasi dalam dunia digital dan berbasis web yang membuat hubungan antara kreator metadata dan pengguna di luar perpustakaan menjadi semakin penting. Oleh karena itu, pengembangan RDA dilakukan secara kolaboratif dan melibatkan banyak pihak, antara lain, Dublin Core dan komunitas web semantik untuk membandingkan model konseptual dan standar yang digunakan, Library of Congress Network Development and MARC Standards Office untuk memastikan kompatibilitas RDA dengan MARC21, IFLA Cataloguing Section untuk menjamin harmonisasi RDA dengan standar pengatalogan internasional, dan komunitas penerbitan yang telah memiliki daftar terminologi alat berdasarkan standar ONIX yang digunakan untuk dunia penerbitan maupun perpustakaan.

RDA dan FRBR
Akronim “FRBR” merupakan singkatan dari Functional Requirements for Bibliographic Records. FRBR dikembangkan oleh International Federation of Library Associations (IFLA) Study Group (1992-1997). IFLA terus memonitor penerapan FRBR dan mempromosikan penggunaannya. (IFLA) secara resmi mulai memperkenalkan FRBR pada International Conference on Principles and Future of Development of AACR2 tahun 1997. Sejak saat itu, posisi FRBR sebagai sebuah kerangka teori semakin signifikan dalam pengembangan standar pengatalogan. FRBR adalah model konseptual yang menjadi fondasi dasar RDA karena itu, penting bagi kita untuk mengerti konsep FRBR sebelum mempelajari RDA.
Dengan menggunakan model konseptual FRBR sebagai fondasi dasarnya, RDA kini lebih dapat merespon perkembangan dunia digital jauh lebih baik ketimbang pendahulunya, AACR2. Struktur RDA menghubungkan lebih dekat elemen data dengan entitas FRBR (works, expressions, manifestations, items) dan memberikan penekanan lebih kuat pada aspek user tasks, khususnya dalam hal menemukan (to find), mengidentifikasi (to identify), memilih (to select), dan mendapatkan (to obtain) koleksi yang diinginkan. RDA juga dapat mengelompokan hasil penelusuran bibliografi berupa faset-faset untuk memperlihatkan hubungan (relationships) antara suatu hasil karya dengan penciptanya, edisi-edisi, revisi-revisi, atau format-format dari satu hasil karya yang sama. Dengan demikian, RDA berfungsi sebagai standar pengatalogan yang lebih fleksibel untuk mendeskripsikan semua jenis materi analog dan digital. Katalog yang dibuat berdasarkan RDA dapat beradaptasi dengan kemunculan model atau struktur database yang ada saat ini.
FRBR muncul sebagai respon atas semakin meluasnya perkembangan kerja sama pengatalogan di berbagai belahan dunia, gencarnya upaya penekanan biaya pengatalogan, dan ketidakpuasan pengguna terhadap katalog saat ini yang dianggap belum memenuhi kebutuhan mereka.

Mengenal Model Konseptual FRBR
Secara teori, FRBR merupakan model konseptual hubungan antarentitas (entity relationship model) yang menghubungkan lebih dekat prinsip user tasks dalam proses temu kembali dan akses dengan data bibliografi. FRBR terdiri dari 3 grup di mana masing-masing grup terdiri dari beberapa entitas:


·         Grup 1 adalah karya intelektual yang terdiri dari entitas Works, Expressions, Manifestations, Items
·         Grup 2 adalah pihak yang bertanggung jawab atas suatu karya yang terdiri dari entitas Persons, Families, Corporate Bodies
·         Grup 3 adalah subyek dari karya intelektual yang terdiri dari Concepts, Events, Events, Place

Masing-masing entitas dideskripsikan dengan atribut dan hubungan antarentitas didefinisikan melalui konsep relationships. Salah satu faktor mengapa model FRBR dimunculkan adalah agar sistem perpustakaan dapat dapat memperlihatkan hubungan antara satu karya dengan karya lainnya.  Sebagai contoh, pada sistem pengatalogan RDA, seorang pengatalog dapat menambahkan informasi bahwa dalam trilogi novel “Lord of the ring”, “Fellowship of the ring” memiliki sequel “The two towers”.  

Grup 1 FRBR
Grup 1 FRBR adalah wilayah pendeskripsian data bibliografi. Istilah work dan expression mengacu pada karya intelektual atau karya artistik dalam wujud yang masih abstrak, misalnya ide, konsep, alur cerita, atau latar belakang dari suatu novel dan lain sebagainya. Sedangkan istilah manifestation dan item mengacu perwujudan fisik maupun virtual dari suatu karya intelektual, misalnya media, format, carrier, dan lain sebagainya. Pada dasarnya hubungan antara Work, Expression, Manifestation, dan Item bukanlah sebuah struktur hirarkis melainkan sebuah urutan logis dari proses penciptaan hasil karya intelektual yang digambarkan melalui model konseptual.
Work merepresentasikan konsep atau ide dari karya intelektual atau artistik seseorang yang masih merupakan entitas abstrak, misalnya novel karya Dewi “Dee” Lestari yang berjudul “Supernova”. Sedangkan Expression adalah realisasi dari suatu karya dalam bentuk teks, alfanumerik, notasi musik, suara, gambar, objek, dan lain-lain, sebagai contoh, teks novel “Supernova” yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Karya adaptasi dan derivatif lainnya juga termasuk dalam kategori ini. Seperti  halnya Work, Expression juga merupakan konsep abstrak.

Manifestation merepresentasikan perwujudan objek fisik virtual yang memiliki karakteristik yang sama dalam hal kandungan intelektual maupun bentuk fisiknya, misalnya seluruh edisi “Supernova” dalam bahasa Inggris diterbitkan di Jakarta tahun 2010. Manifestation direpresentasikan dalam deskripsi bibliografi. Sedangkan item adalah eksemplar atau single copy dari manifestation,  misalnya, apabila novel tersebut dikoleksi oleh perpustakaan yang diberikan barcode atau call number maka itu disebut sebagai item.


Grup 1 Model konseptual FRBR


Sebagai contoh, jika novel “Supernova” dan karya derivatifnya kita analisis dengan menggunakan prinsip hubungan antar entitas Grup 1 FRBR, makan akan terlihat sebagai berikut:


Analisis novel Supernova dalam konsep FRBR


Grup 2 FRBR

Grup 2 FRBR pihak-pihak bertanggung jawab atas penciptaan karya intelektual atau artistik, produksi dan distribusi, serta kepemilikan eksemplar atau copy. Entitas yang ada di dalam Grup 2 terdiri dari Person, Family, dan Corporate Body. Perlu dipahami bahwa Person yang didefinisikan dalam deskripsi bibliografi belum tentu nama asli karena adanya kemungkinan satu atau beberapa pseudonyms. Attribut yang digunakan untuk pendeskripsian antara lain, tanggal kelahiran, kematian, aktivitas, afiliasi, gelar, gender, tempat (kelahiran, kematian, kediaman), bahasa, aktivitas, dan beberapa elemen data lainnya.

Pengertian Family adalah dua orang atau lebih yang memiliki hubungan keluarga secara langsung maupun karena ikatan pernikahan, adopsi, perserikatan atas dasar status hukum tertentu, atau mereka yang menyatakan dirinya sebagai keluarga. Attribut yang digunakan untuk pendeskripsian antara lain, jenis keluarga (klan, dinasti), tanggal yang berasosiasi dengan keluarga, tempat kediaman, aktivitas, sejarah keluarga, dan lain sebagainya.


Hubungan antara Grup 1 dan Grup 2 FRBR


Sedangkan Corporate body didefinisikan sebagai sebuah organisasi atau kelompok individu dan atau organisasi yang mengidentifikasikan dirinya dengan nama khusus sebagai nama dari kesatuan atau unit. Attribut yang digunakan untuk pendeskripsian, antara lain, tempat (lokasi), tanggal (kapan mulai aktif), bahasa, alamat, aktivitas, sejarah, status hukum, dan beberapa elemen data lainnya.

Grup 3 FRBR
Entitas Grup 3 terdiri dari Concept, Object, Event, dan Place. Pengertian Concept di sini mengacu pada ide atau konsep yang bersifat abstrak yang bisa diperluas atau dipersempit, misalnya teori, teknik, proses, praktek, dan lain sebagainya. Object didefinisikan sebagai materi, baik bergerak maupun tidak bergerak yang merupakan ciptaan manusia atau terjadi secara alamiah yang ada di sekeliling kita, misalnya bangunan, kendaraan, dan tumbuhan. Event adalah tindakan atau kejadian yang dijadikan subjek, misalnya kejadian sejarah, periodisasi waktu. Place diartikan sebagai sebuah lokasi baik historis maupun saat ini, di bumi maupun tidak di bumi, misalnya kota, sungai, gunung, planet, dan lain-lain.

Hubungan antara Grup 1, Grup 2, dan Grup 3 FRBR


RDA memberikan penekanan pada beberapa hal, pertama, kaitan antara masing-masing entitas FRBR. Kedua, hubungan antara satu karya intelektual dengan yang lainnya. Ketiga, hubungan antara hasil karya dan penciptanya. Dan yang keempat adalah hubungan antara person, family, dan corporate body.

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa FRBR merupakan sebuah pendekatan teoritis yang memudahkan kita memahami aspek-aspek penting dalam dunia bibliografi. Model konseptual ini menggunakan terminologi baru untuk memperjelas komunikasi di antara para pustakawan dan memastikan pengertian konsep pengatalogan dipahami secara luas. Konsep ini memungkinkan pustakawan mendiskusikan masalah-masalah pengatalogan dengan menggunakan terminologi dan pemahaman teoritis yang berlaku umum, khususnya ketika membandingkan data tidak terstruktur dengan persepsi atau cara yang sama.


Perbedaan Pengatalogan Deskriptif pada RDA dan AACR2
Perubahan mendasar RDA jika dibandingkan dengan AACR2 adalah RDA kini menggunakan sistem kategorisasi yang menghapus GMDs (General Material Designations) dan SMDs (Specific Material Designations) dan menggantinya dengan penambahan tiga field MARC baru yaitu, 336 (content type), 337 (media type), dan 338 (carrier type).  Untuk format elektronik, field 336, 337, 338 dapat membantu menerangkan lebih detail bahwa materi yang dikatalog adalah konten digital dengan konten berupa gambar bergerak atau video.

Field 338 menjadi kunci utama yang membedakan materi online resources dan CD-ROM. Jika yang dikatalog adalah CD-ROM, maka pada field 338 pengatalog mencantumkan “computer disc.” Dan pada field 300, yang perlu ditambahkan adalah informasi mengenai konten CD-ROM, jenis file, dan system requirements yang diperlukan (RDA 3.20.1.3).

Beberapa perbedaan lain RDA dan AACR2 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

No.
RDA
AACR2
1
[Place of publication not identified]
[Publisher not identified].

[s.l.]
[s.n.]
2
Second edition

2nd ed.
3
Mendefinisikan  level deskripsi sebagai core element dan other element

Membagi level deskripsi menjadi minimum level, medium level, dan full level.
4
… / by Nancy Drew, Bess Marvin, George Fayne, and Ned Nickerson.
atau
… / by Nancy Drew [and three others]. Istilah [et al.] tidak lagi digunakan.

… / by Nancy Drew … [et al.].
5
300 $a 1 online resource
336 $a text $2 rdacontent
336 $a cartographic image $2 rdacontent
336 $a still image $2 rdacontent
337 $a computer $2 rdamedia
338 $a online resource $2 rdacarrier

GMDs
7
Mencantumkan punktuasi apa adanya
Mengubah punktuasi “…” menjadi “-“

8
[Pages]
[Illustration]
[volumes]
[p.]
[ill.]
[v.]


Penerapan “rule of three” AACR2 juga mengalami perubahan. Sebagai contoh, pada sebuah buku terdapat 7 editor yang terdiri dari 2 general editor  dan 5 co-editor. Jika pada AACR2 yang dapat dicantumkan ke dalam “statement of responsibility” terbatas pada 2 general editor  plus 1 co-editor, maka pada RDA semua editor dapat dicantumkan. Peraturan RDA 2.4.1.5 menyebutkan tidak dicantumkannya nama-nama diluar “rule of three” kini menjadi sebuah pilihan (optional omission). Namun demikian, RDA lebih mengarahkan pengatalog untuk mencantumkan semua nama. Nama-nama editor yang ada di “statement of responsibility” kemudian dicantumkan lagi sebagai entri tambahan pada field 700 (added entry for person). Meskipun titik akses untuk editor tidak menjadi penting dalam RDA, jika kebijakan pengatalogan perpustakaan memilih untuk mencantumkan nama editor, maka tidak ada batasan berapa banyak nama yang boleh dicantumkan.


Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pada field 700 ada penambahan kata “editor” pada subfield $e (relator term). Subfield $e adalah “relationship designator” pada field-field yang menjadi titik akses untuk menunjukkan hubungan antara entities yang dicantumkan dengan bahan yang sedang dikatalog.


Konsep main entry yang biasa digunakan pada AACR tidak lagi diterapkan pada sistem katalog online maupun RDA. Meskipun demikian, preferred access point tetap dibutuhkan untuk entitas work dan expression khususnya ketika membuat sitasi bibliografi dan kolokasi work dan expression pada sistem katalog online. Pada section 2 RDA terdapat instruksi yang menjelaskan tentang cara mengkonstruksi preferred access point untuk merepresentasikan entitas work dan expression.


Berikut adalah contoh katalog RDA dalam format MARC untuk koleksi CD-ROM yang dikatalog oleh National Library of Australia:


Catalog view: http://catalogue.nla.gov.au/Record/6289063





Struktur RDA
RDA dibangun di atas fondasi Anglo-American Cataloguing Rules (AACR) yang terdiri dari seperangkat instruksi dan panduan lengkap untuk pembuatan deskripsi dan akses ke sumber informasi yang mencakup semua jenis konten dan media. RDA mengatur  pencantuman attribute untuk masing-masing entitas FRBR (work, expression, manifestation, dan item) dan mendefinisikan (relationship) antar entitas dengan penanggung jawab intelektualnya (person, family, dan corporate body).

Implementasi RDA bertujuan, antara lain, pertama, sebagai kerangka kerja yang lebih fleksibel untuk mendeskripsikan semua jenis materi analog dan digital. Kedua, menyajikan data yang dapat beradaptasi dengan struktur database yang beragam. Dan yang ketiga, tampilan data yang kompatibel dengan sistem katalog online saat ini. Sebagaimana yang dinyatakan dalam bab Introduction RDA, pembuatan data bibliografi dengan menggunakan RDA dapat membantu user dalam menjalankan fungsi:

  1. To find – menemukan informasi sesuai dengan kriteria pencarian
  2. To identify – mengidentifikasi hasil pencarian berdasarkan karakteristik entitas
  3. To select – memilih versi tertentu dari satu hasil karya
  4. To obtain – mendapatkan akses ke koleksi yang diinginkan

Struktur RDA terdiri dari 10 section. Section 1-4 berfokus pada pencantuman elemen data dari atribut-atribut dari setiap entitas FRBR, sedangkan section 5-10 berfokus pada pencantuman hubungan atau relationship antar masing-masing entitas.

Recording attributes
Section 1 – Recording attributes of Manifestation and Item
Section 2 – Recording attributes of Work and Expression
Section 3 – Recording Attributes of Person, Family, and Corporate Body
Section 4 – Recording Attributes of Concept, Object, Event, and Place

Recording Relationships
Section 5 – Recording Primary Relationships Between a Work, Expression, Manifestation, and Item
Section 6 – Recording Relationships to Persons, Families, and  Corporate Bodies Associated with a Resource
Section 7 – Recording Subject Relationships
Section 8 – Recording Relationships Between Works, Expressions, Manifestations and Items
Section 9 – Recording Relationships Between Persons, Families, and Corporate Bodies
Section 10 – Recording Relationships Between Concepts, Objects, Events, and Places

Pada setiap section terdapat panduan umum dan bab untuk masing-masing entitas. Bab tersebut akan selalu berasosasi dengan prinsip user tasks dalam FRBR (to find, to identify, to select, to obtain). Bab mengenai pencantuman atribut dan hubungan untuk entitas concept, object, event, dan place akan ditempatkan dalam rilis RDA yang akan datang.

Untuk sementara RDA tidak memuat instruksi untuk subject heading (Entitas Grup 3 FRBR), namun tetap memberikan instruksi untuk mendefinisikan hubungan entitas tersebut dengan entitas Group 1. Meskipun demikian, RDA telah menyediakan bab khusus (section 4 dan 10) yang bisa digunakan untuk entitas Grup 3 FRBR sebagai antisipasi pengembangan RDA lebih lanjut.

Salah satu elemen kunci dalam RDA adalah adanya pemisahan yang tegas dan jelas antara pencantuman data dan presentasi data. Fokus utama RDA adalah menyediakan panduan dan instruksi untuk pencantuman data untuk merefleksikan atribut atau hubungan antar masing-masing entitas yang didefinisikan dalam FRBR.

Implementasi RDA di National Library of Australia
NLA bekerja sama dengan Australia Committe on Cataloguing dalam merumuskan strategi implementasi RDA secara nasional. Implementasi RDA di National Library of  Australia dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah mengidentifikasi dan mengantispasi faktor-faktor teknis maupun non-teknis yang dapat mempengaruhi proses pengimplementasian. Faktor-faktor tersebut antara lain, masalah budget (biaya akses RDA), analisis mengenai sistem perpustakaan saat ini dan rencana perubahan/upgrade/penggantian sistem perpustakaan, produktivitas dan workflow kerja yang mungkin terganggu pada proses transisi.  Selain itu faktor manusia, dalam hal ini cataloguer, juga perlu diperhatikan khususnya di masa-masa transisi, yaitu dengan membuka akses komunikasi mengenai perkembangan up-to-date mengenai implementasi RDA serta membuka ruang konsultasi bagi cataloguer yang ingin mengetahui lebih banyak tentang RDA.

Tahap yang kedua adalah memastikan perpustakaan memiliki akses ke RDA toolkit (www.rdatoolkit.org). Akses ke RDA Toolkit sangat penting bagi perpustakaan yang ingin mengimplementasikan RDA. Sebelum mulai berlangganan, perpustakaan sebaiknya mempelajari terlebih dahulu licence agreement dan jumlah staf yang secara rutin mengakses RDA. RDA  Tookit juga diperlukan selama proses training agar staf familiar dengan konsep, instruksi, dan terminologi yang digunakan RDA.

Tahap yang ketiga adalah melakukan perubahan sistem agar dapat mendukung katalog berbasis RDA dalam hal pembuatan katalog, pertukaran data bibliografi, penelusuran dan display katalog RDA, termasuk mengakomodasi penggunaan field baru pada MARC21. NLA juga melakukan upgrade sistem agar compatible dengan record-record RDA, termasuk perubahan field-field MARC yang diperlukan. Informasi mengenai field-field RDA dalam MARC21 dapat dilihat pada http://www.loc.gov/marc/RDAinMARC.htm

Tahap Keempat NLA membuat kebijakan pengatalogan misalnya pada instruksi-instruksi RDA yang bersifat opsional, apakah instruksi tersebut akan dijadikan wajib atau tetap opsional dalam kebijakan pengatalogan, core elements (elemen data yang wajib ada).  Kebijakan pengatalogan RDA perlu didahulukan agar ketika diimplementasikan cataloguer telah memiliki panduan yang jelas. Kebijakan pengatalogan dapat di-update sesuai kebutuhan. NLA juga meng-update dokumen-dokumen teknis, seperti prosedur pengatalogan untuk masing-masing unit koleksi.

Tahap yang kelima adalah training. Durasi training yang diberikan kepada cataloguer mungkin akan berbeda dengan staff perpustakaan lainnya. Training tambahan mungkin diperlukan bagi cataloguer yang menangani jenis koleksi yang agak berbeda, seperti terbitan berseri, bahan elektronik, dan lain sebagainya.

Penutup
Meskipun banyak perubahan signifikan yang bisa kita temukan pada RDA, namun demikian RDA berdiri di atas beberapa fondasi dasar yang termanifestasikan dalam struktur, konsep, dan istilah yang digunakan. Fondasi tersebut, antara lain, FRBR adalah model konseptual yang membangun struktur RDA, AACR menjadi basis untuk pengatalogan deskriptif, International Cataloguing Principles (ICP) menjadi dasar bagi dokumen legal RDA, dan beberapa standar lainnya. Pengatalogan menggunakan RDA sangat penting dalam membangun sistem pengatalogan dan pencarian informasi di masa-masa mendatang.

Sumber
Australian Committee on Cataloguing Homepage. http://www.nla.gov.au/acoc/resource-description-and-access-rda-in-australia (diakses tanggal 5 September 2015).
Huthwaite, Anne (2001). “AACR and its place in the digital world: near-term solution and long-term direction”. http://www.loc.gov/catdir/bibcontrol/huthwaite_paper.html (diakses tanggal 27 Agustus 2015).
Joint Steering Committee for RDA Development. “RDA: Resource Description and Access Frequently Asked Questions”. http://www.rda-jsc.org/archivedsite/rdafaq.html (diakses tanggal 25 Agustus 2015).
Kiorgaard, Deirdre (2009). “Resource Description and Access”. http://www.nla.gov.au/openpublish/index.php/nlasp/article/viewArticle/1420 (diakses tanggal 27 Agustus 2015).
Maxwell, Robert L. (2014). Maxwell's handbook for RDA : explaining and illustrating RDA : resource description and access using MARC21. London : Facet Publishing.
Miksa, Shawne D. (2007). Understanding Support of FRBR’s Four User Tasks in MARC-Encoded Bibliographic Records. ASIS&T Bulletin (August/September). https://www.asis.org/Bulletin/Aug-07/miksa.html (diakses tanggal 5 September 2015).
National Library of Australia Catalogue Page. http://catalogue.nla.gov.au/ (diakses tanggal 2 September 2015).
RDA Toolkit Homepage. http://www.rdatoolkit.org/ (diakses tanggal 5 September 2015).
Resource Description and Access [RDA] Blog. http://rda-id.blogspot.co.id/  (diakses tanggal 1 Agustus – 7 September 2015).
Tillet, Barbara (2004). What is FRBR? A conceptual model for bibliographic universe. Washington, DC: Library of Congress Cataloguing Distribution Service. http://www.loc.gov/cds/downloads/FRBR.PDF (diakses tanggal 5 Agustus 2015).

No comments:

Post a Comment