| https://www.youtube.com/@RDAToolkitVideo |
rdaindonesia.org adalah referensi pembelajaran Resource Description and Access [RDA] bagi komunitas perpustakaan. Pembahasan konsep mapun praktek penerapan RDA sebagai standar pendeskripsian telah disesuaikan dengan karakteristik bibliografi di Indonesia. Informasi diambil dari berbagai sumber termasuk, slide presentasi para pakar, kebijakan perpustakaan, serta panduan penerapan RDA secara internasional. Dipersilahkan mengutip sebagian atau seluruh konten dengan menyebutkan sumber.
RDA (Resource Description and Access) adalah standar pengatalogan internasional utama dan menjadi standar deskriptif yang digunakan oleh perpustakaan. Official RDA akan menggantikan Original RDA, yang telah menjadi standar sejak tahun 2013 dan akan dihentikan penggunaannya pada Mei 2027. Official RDA selaras dengan teknologi abad ke-21 dan memastikan bahwa data menjadi lebih fungsional di luar katalog perpustakaan.
Official RDA Toolkit, yang merupakan hasil akhir dari Proyek 3R, menjadi standar sejak 15 Desember 2020. Original RDA Toolkit, yang didasarkan pada model konseptual FRBR, FRAD, dan FRSAD, masih tersedia, tetapi versi resmi kini menjadi standar untuk pengatalogan dan pembuatan metadata.
Original RDA adalah versi awal dari RDA, dikembangkan pada tahun 2010, didasarkan pada model konseptual FRBR (Functional Requirements for Bibliographic Records), FRAD (Functional Requirements for Authority Data), dan FRSAD (Functional Requirements for Subject Authority Data).
Komite Pengarah Resource Description and Access (RDA) memulai Proyek 3R (RDA, Restructure, Redesign) untuk memperbarui RDA dan menyelaraskannya dengan IFLA Library Reference Model (LRM).
Official RDA Toolkit adalah hasil dari Proyek 3R ini yang mengadopsi prinsip-prinsip linked data dan lebih fungsional dalam lingkungan digital.
Perpustakaan dan komunitas sedang dalam proses transisi ke versi Official RDA, sementara Original RDA secara bertahap akan dihentikan penggunaannya.
Baris yang di-highlight warna oranye adalah elemen -elemen inti (core element) yang wajib ada pada katalog berbasis RDA. Entitas WEMI diberi label menggunakan singkatan sebagai berikut: W = Work; E = Expression; M = Manifestation; dan I = Item.
https://www.rdatoolkit.org/news/rda/full-record-examples-rda-cataloging
Indonesia. President (2014- : Joko Widodo) & Indonesia. Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. (2022). Lampiran pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia pada sidang tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dan sidang bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dalam rangka HUT ke-78 proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Jakarta : Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
Widianto, Harry & Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Indonesia) & Yayasan Obor Indonesia. (2020). Sangiran dalam konteks migrasi awal di pulau Jawa / Harry Widianto. Jakarta : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerja sama dengan Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
*****
Indonesia. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2021). Laporan kinerja Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2021. [Jakarta] : Kementerian Pemeberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
This presentation is taken from page that provides links to resources, including presentations, training materials and other documentation, relating to or created for the Oceania RDA Community.
IFLA Library Reference Model (LRM) adalah model konseptual
tingkat tinggi yang dikembangkan dalam kerangka pemodelan hubungan antarentitas.
Ini adalah konsolidasi dari model konseptual IFLA yang sebelumnya dikembangkan
secara terpisah: FRBR, FRAD, FRSAD. IFLA LRM dikembangkan untuk memberikan
solusi dari permasalahan inkonsistensi pada tiga model tersebut. Setiap
komponen dari tugas pengguna, entitas, atribut, dan hubungan dari tiga model
itu diperiksa kembali, direvisi, dan dilakukan perubahan untuk menghasilkan konsolidasi
yang lebih bermakna. Hasilnya adalah sebuah model tunggal, sederhana, dan
konsisten secara logis yang mencakup semua aspek data bibliografi dan lebih up-to-date
dengan praktik pemodelan konseptual saat ini. IFLA LRM dirancang untuk
digunakan di lingkungan linked data serta untuk mendukung dan mempromosikan
penggunaan data bibliografi pada lingkungan tersebut.
IFLA Library Reference Model (LRM) is a high-level conceptual reference model developed within an entity-relationship modelling framework. It is the consolidation of the separately developed IFLA conceptual models: FRBR, FRAD, FRSAD. IFLA LRM was developed to resolve inconsistencies between the three separate models. Every user task, entity, attribute and relationship from the original three models was examined, definitions had to be revised, but also some remodelling was required in order to develop a meaningful consolidation. The result is a single, streamlined, and logically consistent model that covers all aspects of bibliographic data and that at the same time brings the modelling up-to-date with current conceptual modelling practices. IFLA LRM was designed to be used in linked data environments and to support and promote the use of bibliographic data in linked data environments.
Authors: IFLA Functional Requirements for Bibliographic Records (FRBR) Review Group, Pat Riva, Patrick Le Boeuf, Maja Zumer
Issue Date: Jan-2018
Publisher : International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA)
Gambar di atas memperlihatkan perubahan definisi entitas “Work” dalam LRM jika dibandingkan definisi aslinya pada FRBR. Penambahan kata "content of" membuat definisi entitas "Work" menjadi lebih spesifik yang tidak hanya hanya hasil karya secara utuh tetapi juga konten dari sebuah hasil karya. Ide pemikiran ini sebenarnya telah digunakan RDA untuk mendefinisikan entitas “Work”, yaitu dengan mengubah kata “creation” menjadi “content.”
Baik LRM maupun RDA sama-sama mempertahankan gagasan tentang “hasil karya yang berbeda” (a distinct creation) untuk menjelaskan bahwa sebuah "Karya" harus unik dan berbeda dari karya yang lainnya. Konsep ini berbeda dengan BIBFRAME di mana penyebutan frase "resource reflecting a conceptual essence” (sumber daya mencerminkan esensi konseptual” adalah penggabungan konsep “Work” dan “Expression”.
Dalam BIBFRAME, konsep “Expression” FRBR dipetakan ke dalam konsep “Work” dan keduanya merupakan satu kesatuan. Konsep ini memposisikan sebuah hasil karya dalam BIBFRAME sebagai tingkat abstraksi yang paling tinggi. Hasil karya dalam pengertian BIBFRAME mencerminkan esensi konseptual dari bahan yang dikatalog, antara lain penulis, bahasa, dan subjek. Hal ini disebabkan karena BIBFRAME didesain sebagai transisi dari format MARC21 ke format deskripsi bibliografi berbasis linked data sehingga kombinasi ini memungkinkan transisi dari format yang tidak berdasarkan WEMI menjadi lebih mudah.
"Res" adalah entitas baru yang diperkenalkan dalam model LRM. "Res" menempati level paling tinggi dalam hierarki LRM dan menginduki semua entitas dibawahnya. Dalam dokumen IFLA LRM disebutkan bahwa "Res" merupakan superclass dari semua entitas yang ada dalam LRM, baik yang telah didefinisikan secara eksplisit maupun yang belum memiliki label spesifik. FRSAD pernah memperkenalkan konsep "Thema" dan mendefinisikannya sebagai entitas apa saja yang digunakan sebagai subyek dari hasil karya. Dalam LRM, pengertian ini dimodifikasi menjadi lebih general sehingga meliputi seluruh entitas yang ada di alam wacana/pemikiran dan mengubah namanya menjadi "Res" (Latin) atau yang berarti "Thing" (Inggris). Penggunaan istilah “alam wacana” oleh RDA dalam mendefinisikan pengertian entitas dan "Res", semakin memperjelas setiap entitas RDA merupakan ekuivalen dari "Res". Hal ini berbeda dengan BIBFRAME yang tidak memiliki padanan seperti "Res" atau "Thema".
Dengan diperkenalkannya FRBR ((Functional Requirements for Bibliographic Records) pada tahun 1998, IFLA (International Federation of Library Associations and Institutions) memperkenalkan sebuah model konseptual baru. FRBR kemudian segera diikuti oleh FRAD (Functional Requirements for Authority Data) dan FRSAD (Functional Requirements for Subject Authority Data). Dengan kehadiran LRM (IFLA Library Reference Model) dan dua standar pendeskripsian lainnya, yaitu RDA Toolkit dan BIBFRAME, dapat membantu cataloger dalam memahami model hubungan entitas dalam kegiatan pendeskripsian bibliografi secara lebih baik.
Ketika komputer mulai diperkenalkan untuk pengorganisasian informasi, Henriette Davidson Avram, seorang programmer dan analis sistem berhasil mengembangkan format MARC (Machine-readable cataloguing) pada akhir 1960-an. MARC kemudian menjadi standar internasional untuk pertukaran data bibliografi dalam dunia perpustakaan dan informasi. Pada periode yang hampir bersamaan, standar pengatalogan AACR ( Anglo-American Cataloguing Rules) diterbitkan dan edisi keduanya diterbitkan pada tahun 1978. Standar kunci lain yang muncul dalam periode ini adalah International Standard Bibliographic Description for monographic publications (ISBD) yang diterbitkan pada tahun 1971. Standar-standar ini mendominasi aktivitas pengatalogan di Amerika Serikat dan negara-negara lain selama beberapa dekade.
Kemajuan teknologi yang terjadi pada dekade tersebut semakin mendorong penggunaan komputer dan database online secara masif, seperti OCLC (Online Computer Library Center) dan RLIN (Research Libraries Information Network) untuk mengotomatiskan proses katalogisasi. Selain itu, jumlah dan variasi jenis sumber daya bibliografi yang memerlukan pengatalogan mengalami pertumbuhan secara eksponensial. Peningkatan jumlah terbitan secara global dan kebutuhan perpustakaan untuk mendeskripsikan terbitan tersebut dengan cepat memiliki konsekuensi perlunya penetapan standar pengatalogan tingkat minimal. Untuk alasan ini, IFLA memutuskan untuk mengadopsi standar pengatalogan baru yang lebih berorientasi pada pemrosesan mesin dan aspek manusia. Standard yang dimaksud tertuang dalam publikasi FRBR, FRAD, dan FRSAD.
Studi yang dilakukan IFLA pada tahun 1997 menghasilkan model FRBR yang lebih berfokus dalam memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Kerangka kerja FRBR dibangun di atas landasan tentang bagaimana data yang terkandung dalam cantuman bibliografi dapat mendukung tugas pengguna, yaitu untuk menemukan, mengidentifikasi, memilih, dan mendapatkan. Konsep tersebut masih tetap relevan hingga saat ini dan telah mengalami pengembangan lebih jauh. Studi juga menemukan bahwa cara terbaik untuk mengidentifikasi bagaimana cantuman bibliografi (dan authority data) dapat memenuhi tugas-tugas ini adalah dengan menggunakan model ERM (Entity Relationship Model) yang dikembangkan oleh Peter Pin-Shan Chen pada tahun 1976.
Teknik analisis entitas FRBR diawali dengan mengisolasi entitas yang menjadi objek kunci dalam cantuman bibliografi. Setelah itu, mengidentifikasi karakteristik atau atribut dari setiap entitas dan hubungan antar entitas yang dianggap penting bagi pengguna dalam merumuskan pencarian bibliografi, mengintepretasikan respon dari hasil penelusuran informasi, dan melakukan navigasi di alam entitas cantuman bibliografi. Sekumpulan entitas kunci yang diperkenalkan oleh model FRBR dikenal sebagai WEMI (Work, Expression, Manifestation, dan Item). Entitas ini tetap dipertahankan dalam konsep pemodelan baru yang dinamakan LRM (Library Reference Model), juga dalam implementasi modern lainnya seperti RDA dan BIBFRAME (Bibliographic Framework).
Dalam perkembangannya, FRBR, FRAD, dan FRSAD kemudian digantikan oleh IFLA LRM yang berakibat pada restrukturisasi RDA Toolkit. Pada bagian pendahuluan draft final LRM 2017 dinyatakan bahwa, “Pemodelan LRM mempertimbangkan aspek-aspek informasi bibliografi yang berkaitan dengan semua jenis bahan pustaka dan sumber daya informasi lainnya yang menjadi perhatian bagi perpustakaan. Model ini berusaha untuk mengungkapkan kesamaan dan struktur yang mendasari sumber bibliografi.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa LRM mendefinisikan ruang lingkup yang luas untuk deskripsi bibliografi dan dimaksudkan sebagai sebuah format yang agnostik.
Library of Congress (LC) dan sejumlah lembaga mitra kini tengah mengembangkan dan menguji BIBFRAME untuk menghasilkan model linked data. Dari beberapa model yang diuji dalam proyek ini, BIBFRAME adalah yang paling jelas dirancang untuk produksi linked metadata RDF (Resource Description Framework). RDF adalah sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mendeskripsikan sumber daya informasi yang tersedia melalui web dan dirancang untuk dapat dibaca dan dipahami oleh komputer.
Proses mengekspresikan RDF dalam bahasa komputer dikenal sebagai serialisasi (serialization), dan XML (Extensible Markup Language) adalah format serialisasi paling populer untuk RDF. XML memperluas struktur keterhubungan web dalam menamakan dan mengaitkan hubungan antar objek yang biasanya disebut sebagai triples. Langkah pertama adalah membuat sebanyak mungkin daftar terkendali makro ( LCSH, Name Authority File, dll.) dan daftar terkendali mikro (kode bahasa, konten dan media, dll.) agar bisa digunakan dalam aplikasi linked data. Daftar kosakata terkendali yang akan digunakan untuk pendeskripsian bibliografi ini perlu diubah dari format cetak atau web ke dalam RDF agar tautan mereka dapat direferensikan oleh URI (Uniform Resources Identifier) dan deskripsinya dapat diakses dalam RDF. Layanan linked data LC (Library of Congress) mulai dikembangkan pada tahun 2007. Tujuannya adalah untuk membuat tautan menjadi otomatis dan dapat lebih ditingkatkan. Layanan ini kemudian dilanjutkan dengan proyek BIBFRAME yang secara eksplisit dirancang untuk membuat RDF triples, entitasnya dan definisinya berbeda dengan RDA. Karena RDA telah dimodifikasi untuk kebutuhan LRM, maka model hubungan entitasnya dianggap lebih bersahabat dengan RDF triples. Pada dasarnya RDF triples adalah metadata yang dibangun dengan struktur "entitas-hubungan-entitas" klasik. Contohnya adalah sebagai berikut: "Charles Dickens"—"adalah penulis"— "Bleak House," yang mengungkapkan hubungan Charles Dickens dengan karyanya yaitu "Bleak House."
Format dasar cara mendeklarasikan hubungan entitas dalam LRM menggunakan format sebagai berikut:Entitas A dalam kurung siku kemudian nama relationship dalam kurung sudut dan Entitas B dalam dalam kurung siku, di mana Entitas A berasal domain spesifik tertentu dan Entitas B berasal range spesifik tertentu. Setiap relationship mempunya inverse relationship atau hubungan kebalikannya, misalnya Agent created Work memiliki inverse relationship Work created by Agent.
Setiap hubungan entitas dalam LRM memiliki kardinalitas untuk menyatakan banyaknya anggota dari sebuah himpunan atau banyaknya range dari sebuah domain entitas tertentu. Misalnya sebuah Res mencakup konsep abstrak maupun objek fisik memiliki penyebutan Nomen. Nomen adalah asosiasi antara entitas dan sebutan yang merujuk padanya dan Nomen merupakan kosakata terkendali. Sebagai contoh, sebuah entitas Person, Habibie (mantan Presiden RI) yang menggunakan string B.J Habibie memiliki kemungkinan beberapa teks string lainnya, misalnya di Rusia name authority untuk string B.J Habibie menggunakan bahasa Rusia, demikian juga di Jepang memiliki format text string-nya dalam bahasanya sendiri. Jadi, sebuah Res dalam hal ini Person memiliki sejumlah Nomen dalam bentuk text string. Dengan mengkonsolidasikan hubungan kardinalitas dalam pemodelan seperti ini maka dapat mengoptimalkan RDA linked data.
Untuk membantu menfasilitasi tugas ini, maka diupayakan sistem informasi bibliografi perlu dirancang untuk dapat:
LRM mengunakan struktur hierarkis superclass dan subclass yang diexpresikan melalui "is-A" relationship dalam pemodelan formalnya. Para ahli mengatakan bahwa model ini merupakan mekanisme yang sangat efektif dalam menyederhanakan hubungan antar entitas. Atribut pada entitas yang berada di atas akan diturunkan pada subclass yang berada dibawahnya tanpa adanya pengulangan atau repitisi.
Entitas tunggal yang berada pada level paling tinggi adalah Res, sementara itu semua entitas lain yang berada dibawahnya merupakan subclass dari Res baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebanyak 8 entitas adalah subclass langsung dari Res berada pada second level: Work, Expression, Manifestation, Item, Agent, Nomen, Place, Time-span. Kolom third-level memperlihat dua entitas yang merupakan subclass dari entitas Agent, yakni Person dan Collective agent. Namun, Family dan Corporate body tidak lagi termasuk entitas)
Perubahan model konseptual dari FRBR ke LRM berdampak secara signfikan pada RDA, antara lain:
Ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi perubahan model konseptual dari Functional Requirement for Bibliographic Record (FRBR) ke Library Reference Model (LRM). Jika dirunut ke belakang, pada awalnya IFLA mengembangkan model konseptual FRBR, kemudian dari sini lahir dua model perluasan yaitu FRAD dan FRSAD. Ketiga model ini saling berkaitan erat karena itu sering disebut sebagai FRBR family. Meskipun demikian, ketiga model konseptual ini dikembangkan secara terpisah oleh tim yang berbeda-beda. Dalam penerapannya di perpustakaan, ada beberapa permasalahan pada model konseptual ini, antara lain:
Sebelum menjadi LRM sebenarnya sudah FRBR sudah sempat berubah menjadi menjadi FRBRoo (Functional Requirement for Bibliographic Record Object Oriented), untuk mengakomodasi kebutuhan pengatalogan di sektor museum. Perubahan ini terjadi setelah IFLA menerima berbagai masukan dari museum yang disusun dalam dokumen Conceptual Reference Model (CIDOC CRM) for Museum Information. Namun dalam perjalanannya, pemodelan FRBRoo formal masih sulit diterapkan oleh museum karena konsepnya dianggapp masih berlandaskan formalisme FRBR yang dianggap terlalu spesifik. Akhirnya IFLA memutuskan mengubah konsep FRBR menjadi model tingkat tinggi dengan mengedepankan aspek keumuman (commonalities) dalam pendeskripsian agar tidak lagi terlalu spesifik sehingga bisa diterapkan secara optimal oleh museum. Model inilah yang kemudian dinamakan IFLA LRM yang disepakati secara internasional sebagai dasar penyusunan peraturan pengatalogan dan sistem informasi bibliografi, termasuk RDA.
In Bahasa Indonesia and English
|
Tugas |
Definisi |
Komentar |
|
Menemukan |
Mendapatkan informasi
mengenai satu atau lebih sumber daya yang diinginkan dengan menggunakan
pencarian pada kriteria yang relevan |
Tugas “menemukan” adalah perihal pencarian. Tujuan pengguna adalah untuk memperoleh satu atau lebih dari contoh-contoh entitas hasil pencarian. Dalam proses pencarian, pengguna dapat menggunakan atribut atau hubungan dari sebuah entitas, atau kombinasi dari sejumlah atribut dan atau hubungan entitas. Untuk membantu menfasilitasi tugas ini, sistem informasi perlu dirancang untuk dapat melakukan pencarian efektif dengan menyediakan elemen-elemen atau fungsionalitas pencarian yang sesuai. |
|
Mengidentifikasi |
Memahami sifat alami
sebuah sumber daya yang ditemukan dan dapat membedakan dengan hasil karya
lain yang memiliki kemiripan |
Tujuan pengguna pada tugas “mengidentifikasi” adalah mengkonfirmasikan entitas yang dideskripsikan cocok dengan contoh dari entitas yang dicari atau untuk membedakan dua atau lebih contoh entitas dengan karakteristik yang mirip. Dalam pencarian “item yang tidak diketahui”, pengguna akan berusaha mengenalinya melalui karakteristik dasar dari hasil karya yang ditampilkan. Untuk memfasilitasi tugas ini, sistem informasi akan berusaha untuk mendeskripsikan secara jelas sumber daya yang dicakupnya. Pendeskripsian harus dapat dikenali dan mudah diintepretasi oleh pengguna. |
|
Memilih |
Menentukan kesesuaian sumber
daya yang ditemukan dan menentukan apakah sumber daya tertentu akan diterima
atau ditolak |
Tugas “menyeleksi” adalah perihal reaksi terhadap opsi-opsi. Tujuan pengguna adalah untuk menentukan pilihan, dari sekian banyak sumber daya yang diperoleh, untuk kemudian ditelusuri lebih jauh. Persyaratan sekunder pengguna atau Batasan mungkin melibatkan aspek konten, audiens, dan lain sebagainya. Untuk memfasilitasi tugas ini, sistem informasi perlu mendukung penilaian berdasarkan relevansi dengan menyediakan informasi yang memadai tentang sumber daya yang ditemukan sehingga pengguna dapat menentukan dan melakukan tindakan selanjutnya. |
|
Mendapatkan |
Mengakses konten sumber
daya |
Tujuan pengguna dalam tugas “mendapatkan” adalah untuk berpindah dari berkonsultasi dengan pengganti menjadi benar-benar berinteraksi dengan sumber daya perpustakaan yang dipilih. Untuk memenuhi tugas ini, sistem informasi perlu menyediakan tautan langsung ke informasi online, atau informasi lokasi untuk fisik sumber daya, serta instruksi dan informasi akses yang diperlukan untuk menyelesaikan transaksi atau pembatasan akses apa pun |
|
Menjelajah |
Untuk menemukan sumber
daya menggunakan hubungan di antara sumber daya dan dengan demikian
menempatkan sumber daya dalam suatu konteks |
Tugas penjelajahan adalah tugas pengguna yang paling terbuka. Pengguna mungkin menjelajah, menghubungkan satu sumber daya ke sumber daya lainnya, membuat koneksi tak terduga, atau membiasakan diri dengan sumber daya yang tersedia untuk penggunaan di masa mendatang. Tugas eksplorasi mengakui pentingnya kebetulan dalam pencarian informasi. Untuk memfasilitasi tugas ini sistem informasi berusaha untuk mendukung penemuan dengan membuat hubungan eksplisit, dengan menyediakan informasi kontekstual dan fungsionalitas navigasi. |
|
Task |
Definition |
Comment |
|
Find |
To bring together information about one or more resources of interest by searching on any relevant criteria |
The find
task is about searching. The user’s goal is to bring together one or more
instances of entities as the result of a search. The user may search using an
attribute or relationship of an entity, or any combination of attributes
and/or relationships. To facilitate this task, the information system seeks
to enable effective searching by offering appropriate search elements or functionality. |
|
Identify |
To clearly understand the nature of the resources found and to distinguish between similar resources |
The user’s goal in the identify task is to confirm that the instance of the entity described corresponds to the instance sought, or to distinguish between two or more instances with similar characteristics. In “unknown item” searches, the user also seeks to recognize the basic characteristics of the resources presented. To facilitate this task, the information system seeks to clearly describe the resources it covers. The description should be recognizable to the user and easily interpreted. |
|
Select |
To determine the suitability of the resources found, and to be enabled to either accept or reject specific resources |
The select task is about reacting to possible options. The user’s goal is to make choices, from among the resources presented, about which of them to pursue further. The user’s secondary requirements or limitations may involve aspects of content, intended audience, etc. To facilitate this task, the information system needs to allow/support relevance judgments by providing sufficient appropriate information about the resources found to allow the user to make this determination and act on it. |
|
Obtain |
To access the content of the resource |
The user’s goal in the obtain task is to move from consulting a surrogate to actually interacting with the library resources selected. To fulfill this task, the information system needs to either provide direct links to online information, or location information for physical resources, as well as any instructions and access information required to complete the transaction or any restrictions on access. |
|
Explore |
To discover resources using the relationships between them and thus place the resources in a context |
The explore task is the most open-ended of the user tasks. The user may be browsing, relating one resource to another, making unexpected connections, or getting familiar with the resources available for future use. The explore task acknowledges the importance of serendipity in information seeking. To facilitate this task the information system seeks to support discovery by making relationships explicit, by providing contextual information and navigation functionality. |