rdaindonesia.org adalah referensi pembelajaran Resource Description and Access [RDA] bagi komunitas perpustakaan. Pembahasan konsep mapun praktek penerapan RDA sebagai standar pendeskripsian telah disesuaikan dengan karakteristik bibliografi di Indonesia. Informasi diambil dari berbagai sumber termasuk, slide presentasi para pakar, kebijakan perpustakaan, serta panduan penerapan RDA secara internasional. Dipersilahkan mengutip sebagian atau seluruh konten dengan menyebutkan sumber.
Tuesday, May 17, 2022
Celebrating Indonesia's National Book Day, 17 May 2022
Thursday, December 9, 2021
LRM E-2 Work
Gambar di atas memperlihatkan perubahan definisi entitas “Work” dalam LRM jika dibandingkan definisi aslinya pada FRBR. Penambahan kata "content of" membuat definisi entitas "Work" menjadi lebih spesifik yang tidak hanya hanya hasil karya secara utuh tetapi juga konten dari sebuah hasil karya. Ide pemikiran ini sebenarnya telah digunakan RDA untuk mendefinisikan entitas “Work”, yaitu dengan mengubah kata “creation” menjadi “content.”
Baik LRM maupun RDA sama-sama mempertahankan gagasan tentang “hasil karya yang berbeda” (a distinct creation) untuk menjelaskan bahwa sebuah "Karya" harus unik dan berbeda dari karya yang lainnya. Konsep ini berbeda dengan BIBFRAME di mana penyebutan frase "resource reflecting a conceptual essence” (sumber daya mencerminkan esensi konseptual” adalah penggabungan konsep “Work” dan “Expression”.
Dalam BIBFRAME, konsep “Expression” FRBR dipetakan ke dalam konsep “Work” dan keduanya merupakan satu kesatuan. Konsep ini memposisikan sebuah hasil karya dalam BIBFRAME sebagai tingkat abstraksi yang paling tinggi. Hasil karya dalam pengertian BIBFRAME mencerminkan esensi konseptual dari bahan yang dikatalog, antara lain penulis, bahasa, dan subjek. Hal ini disebabkan karena BIBFRAME didesain sebagai transisi dari format MARC21 ke format deskripsi bibliografi berbasis linked data sehingga kombinasi ini memungkinkan transisi dari format yang tidak berdasarkan WEMI menjadi lebih mudah.
Thursday, December 2, 2021
LRM-E1 Res dan Thema
"Res" adalah entitas baru yang diperkenalkan dalam model LRM. "Res" menempati level paling tinggi dalam hierarki LRM dan menginduki semua entitas dibawahnya. Dalam dokumen IFLA LRM disebutkan bahwa "Res" merupakan superclass dari semua entitas yang ada dalam LRM, baik yang telah didefinisikan secara eksplisit maupun yang belum memiliki label spesifik. FRSAD pernah memperkenalkan konsep "Thema" dan mendefinisikannya sebagai entitas apa saja yang digunakan sebagai subyek dari hasil karya. Dalam LRM, pengertian ini dimodifikasi menjadi lebih general sehingga meliputi seluruh entitas yang ada di alam wacana/pemikiran dan mengubah namanya menjadi "Res" (Latin) atau yang berarti "Thing" (Inggris). Penggunaan istilah “alam wacana” oleh RDA dalam mendefinisikan pengertian entitas dan "Res", semakin memperjelas setiap entitas RDA merupakan ekuivalen dari "Res". Hal ini berbeda dengan BIBFRAME yang tidak memiliki padanan seperti "Res" atau "Thema".
Tuesday, November 30, 2021
MARC, ISBD, AACR, FRBR, RDA, BIBFRAME, RDF, LRM: Evolusi dan Keterkaitannya
Dengan diperkenalkannya FRBR ((Functional Requirements for Bibliographic Records) pada tahun 1998, IFLA (International Federation of Library Associations and Institutions) memperkenalkan sebuah model konseptual baru. FRBR kemudian segera diikuti oleh FRAD (Functional Requirements for Authority Data) dan FRSAD (Functional Requirements for Subject Authority Data). Dengan kehadiran LRM (IFLA Library Reference Model) dan dua standar pendeskripsian lainnya, yaitu RDA Toolkit dan BIBFRAME, dapat membantu cataloger dalam memahami model hubungan entitas dalam kegiatan pendeskripsian bibliografi secara lebih baik.
Ketika komputer mulai diperkenalkan untuk pengorganisasian informasi, Henriette Davidson Avram, seorang programmer dan analis sistem berhasil mengembangkan format MARC (Machine-readable cataloguing) pada akhir 1960-an. MARC kemudian menjadi standar internasional untuk pertukaran data bibliografi dalam dunia perpustakaan dan informasi. Pada periode yang hampir bersamaan, standar pengatalogan AACR ( Anglo-American Cataloguing Rules) diterbitkan dan edisi keduanya diterbitkan pada tahun 1978. Standar kunci lain yang muncul dalam periode ini adalah International Standard Bibliographic Description for monographic publications (ISBD) yang diterbitkan pada tahun 1971. Standar-standar ini mendominasi aktivitas pengatalogan di Amerika Serikat dan negara-negara lain selama beberapa dekade.
Kemajuan teknologi yang terjadi pada dekade tersebut semakin mendorong penggunaan komputer dan database online secara masif, seperti OCLC (Online Computer Library Center) dan RLIN (Research Libraries Information Network) untuk mengotomatiskan proses katalogisasi. Selain itu, jumlah dan variasi jenis sumber daya bibliografi yang memerlukan pengatalogan mengalami pertumbuhan secara eksponensial. Peningkatan jumlah terbitan secara global dan kebutuhan perpustakaan untuk mendeskripsikan terbitan tersebut dengan cepat memiliki konsekuensi perlunya penetapan standar pengatalogan tingkat minimal. Untuk alasan ini, IFLA memutuskan untuk mengadopsi standar pengatalogan baru yang lebih berorientasi pada pemrosesan mesin dan aspek manusia. Standard yang dimaksud tertuang dalam publikasi FRBR, FRAD, dan FRSAD.
Studi yang dilakukan IFLA pada tahun 1997 menghasilkan model FRBR yang lebih berfokus dalam memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Kerangka kerja FRBR dibangun di atas landasan tentang bagaimana data yang terkandung dalam cantuman bibliografi dapat mendukung tugas pengguna, yaitu untuk menemukan, mengidentifikasi, memilih, dan mendapatkan. Konsep tersebut masih tetap relevan hingga saat ini dan telah mengalami pengembangan lebih jauh. Studi juga menemukan bahwa cara terbaik untuk mengidentifikasi bagaimana cantuman bibliografi (dan authority data) dapat memenuhi tugas-tugas ini adalah dengan menggunakan model ERM (Entity Relationship Model) yang dikembangkan oleh Peter Pin-Shan Chen pada tahun 1976.
Teknik analisis entitas FRBR diawali dengan mengisolasi entitas yang menjadi objek kunci dalam cantuman bibliografi. Setelah itu, mengidentifikasi karakteristik atau atribut dari setiap entitas dan hubungan antar entitas yang dianggap penting bagi pengguna dalam merumuskan pencarian bibliografi, mengintepretasikan respon dari hasil penelusuran informasi, dan melakukan navigasi di alam entitas cantuman bibliografi. Sekumpulan entitas kunci yang diperkenalkan oleh model FRBR dikenal sebagai WEMI (Work, Expression, Manifestation, dan Item). Entitas ini tetap dipertahankan dalam konsep pemodelan baru yang dinamakan LRM (Library Reference Model), juga dalam implementasi modern lainnya seperti RDA dan BIBFRAME (Bibliographic Framework).
Dalam perkembangannya, FRBR, FRAD, dan FRSAD kemudian digantikan oleh IFLA LRM yang berakibat pada restrukturisasi RDA Toolkit. Pada bagian pendahuluan draft final LRM 2017 dinyatakan bahwa, “Pemodelan LRM mempertimbangkan aspek-aspek informasi bibliografi yang berkaitan dengan semua jenis bahan pustaka dan sumber daya informasi lainnya yang menjadi perhatian bagi perpustakaan. Model ini berusaha untuk mengungkapkan kesamaan dan struktur yang mendasari sumber bibliografi.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa LRM mendefinisikan ruang lingkup yang luas untuk deskripsi bibliografi dan dimaksudkan sebagai sebuah format yang agnostik.
Library of Congress (LC) dan sejumlah lembaga mitra kini tengah mengembangkan dan menguji BIBFRAME untuk menghasilkan model linked data. Dari beberapa model yang diuji dalam proyek ini, BIBFRAME adalah yang paling jelas dirancang untuk produksi linked metadata RDF (Resource Description Framework). RDF adalah sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mendeskripsikan sumber daya informasi yang tersedia melalui web dan dirancang untuk dapat dibaca dan dipahami oleh komputer.
Proses mengekspresikan RDF dalam bahasa komputer dikenal sebagai serialisasi (serialization), dan XML (Extensible Markup Language) adalah format serialisasi paling populer untuk RDF. XML memperluas struktur keterhubungan web dalam menamakan dan mengaitkan hubungan antar objek yang biasanya disebut sebagai triples. Langkah pertama adalah membuat sebanyak mungkin daftar terkendali makro ( LCSH, Name Authority File, dll.) dan daftar terkendali mikro (kode bahasa, konten dan media, dll.) agar bisa digunakan dalam aplikasi linked data. Daftar kosakata terkendali yang akan digunakan untuk pendeskripsian bibliografi ini perlu diubah dari format cetak atau web ke dalam RDF agar tautan mereka dapat direferensikan oleh URI (Uniform Resources Identifier) dan deskripsinya dapat diakses dalam RDF. Layanan linked data LC (Library of Congress) mulai dikembangkan pada tahun 2007. Tujuannya adalah untuk membuat tautan menjadi otomatis dan dapat lebih ditingkatkan. Layanan ini kemudian dilanjutkan dengan proyek BIBFRAME yang secara eksplisit dirancang untuk membuat RDF triples, entitasnya dan definisinya berbeda dengan RDA. Karena RDA telah dimodifikasi untuk kebutuhan LRM, maka model hubungan entitasnya dianggap lebih bersahabat dengan RDF triples. Pada dasarnya RDF triples adalah metadata yang dibangun dengan struktur "entitas-hubungan-entitas" klasik. Contohnya adalah sebagai berikut: "Charles Dickens"—"adalah penulis"— "Bleak House," yang mengungkapkan hubungan Charles Dickens dengan karyanya yaitu "Bleak House."
Wednesday, October 6, 2021
Mendeklarasikan Hubungan Entitas LRM
Format dasar cara mendeklarasikan hubungan entitas dalam LRM menggunakan format sebagai berikut:Entitas A dalam kurung siku kemudian nama relationship dalam kurung sudut dan Entitas B dalam dalam kurung siku, di mana Entitas A berasal domain spesifik tertentu dan Entitas B berasal range spesifik tertentu. Setiap relationship mempunya inverse relationship atau hubungan kebalikannya, misalnya Agent created Work memiliki inverse relationship Work created by Agent.
Kardinalitas Entitas LRM
Setiap hubungan entitas dalam LRM memiliki kardinalitas untuk menyatakan banyaknya anggota dari sebuah himpunan atau banyaknya range dari sebuah domain entitas tertentu. Misalnya sebuah Res mencakup konsep abstrak maupun objek fisik memiliki penyebutan Nomen. Nomen adalah asosiasi antara entitas dan sebutan yang merujuk padanya dan Nomen merupakan kosakata terkendali. Sebagai contoh, sebuah entitas Person, Habibie (mantan Presiden RI) yang menggunakan string B.J Habibie memiliki kemungkinan beberapa teks string lainnya, misalnya di Rusia name authority untuk string B.J Habibie menggunakan bahasa Rusia, demikian juga di Jepang memiliki format text string-nya dalam bahasanya sendiri. Jadi, sebuah Res dalam hal ini Person memiliki sejumlah Nomen dalam bentuk text string. Dengan mengkonsolidasikan hubungan kardinalitas dalam pemodelan seperti ini maka dapat mengoptimalkan RDA linked data.
LRM dan Sistem Informasi Bibliografi
Mirip seperti FRBR, titik tolak LRM bermula dari adanya user tasks atau tugas pengguna yang harus difasilitasi dan didukung oleh sistem informasi bibliografi. Pada LRM, definisi tugas pengguna telah mengalami perubahan definisi dan ditambah satu tugas lagi yaitu explore. Definisi yang dijelaskan dalam konsep LRM dapat memberikan batasan-batasan yang lebih jelas dan dapat berfungsi sebagai titik awal pendefinisian entitas, atribut, dan relationship.
Untuk membantu menfasilitasi tugas ini, maka diupayakan sistem informasi bibliografi perlu dirancang untuk dapat:
- Melakukan pencarian efektif dengan menyiapkan elemen-elemen atau fungsionalitas pencarian yang sesuai
- Mendukung penilaian relevansi dengan menyediakan informasi yang memadai tentang resources yang ditemukan sehingga pengguna dapat membuat pilihan dan melakukan tindakan selanjutnya
- Menyediakan link ke sumber informasi online atau informasi lokasi tempat fisik dari sebuah koeksi berada, termasuk instruksi dan informasi akses yang diperlukan untuk melakukan transaksi atau batasan-batasan yang ditetapkan untuk mengaksesnya. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah menghubungkan antara satu resource dengan resource lain dan membuat koneksi-koneksi yang tidak terduga
LRM Superclass dan Subclass
LRM mengunakan struktur hierarkis superclass dan subclass yang diexpresikan melalui "is-A" relationship dalam pemodelan formalnya. Para ahli mengatakan bahwa model ini merupakan mekanisme yang sangat efektif dalam menyederhanakan hubungan antar entitas. Atribut pada entitas yang berada di atas akan diturunkan pada subclass yang berada dibawahnya tanpa adanya pengulangan atau repitisi.
Entitas tunggal yang berada pada level paling tinggi adalah Res, sementara itu semua entitas lain yang berada dibawahnya merupakan subclass dari Res baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebanyak 8 entitas adalah subclass langsung dari Res berada pada second level: Work, Expression, Manifestation, Item, Agent, Nomen, Place, Time-span. Kolom third-level memperlihat dua entitas yang merupakan subclass dari entitas Agent, yakni Person dan Collective agent. Namun, Family dan Corporate body tidak lagi termasuk entitas)
Wednesday, March 24, 2021
Dampak Library Refence Model (LRM) terhadap RDA
Perubahan model konseptual dari FRBR ke LRM berdampak secara signfikan pada RDA, antara lain:
- Pendefinisian ulang dari konsep entitas, user-task, relationship dan lain-lain
- Perubahan struktur model hierarki entitas menjadi struktur tunggal yang lebih dengan menggunakan istilah superclass dan subclass. Penekanan pada aspek relasional data dengan menggunakan konsep "is-A" relationship
- Selain mewarisi sejumlah entitas dari FRBR, ada beberapa penambahan entitas baru, yaitu (Res, nomen, agent, collective agent, place, time span). Res adalah entitas tertinggi dalam hierarki yang dapat berupa konsep abstrak maupun objek fisik. Nomen hubungan antara entitas dengan sebutan yang merujuk padanya. Dalam konsep LRM, Agent merupakan entitas superclass, yang menjadi superior dari dua entitas subclass dibawahnya, yaitu person dan collective agent, di mana collective agent terdiri family dan corporate body. Namun, family dan corporate body tidak lagi dianggap sebagai entitas karena tidak memiliki atribut spesifik dan relationship
- Beberapa entitas dan istilah mulai tidak lagi digunakan dalam aturan pendeskripsian, antara lain, Family, Corporate Body, Identifier, Controlled Access Point, Rules, Agency, Concept, Object, Event
- Dampak yang paling besar dari penerapan LRM adalah dilakukannya penyusunan ulang struktur dan desain RDA yang dikenal sebagai 3R project (RDA Redesign and Restructure). Project ini dilakukan agar RDA selaras dengan konsep LRM dengan cara memperbaiki struktur data yang mendasari RDA, membuat instruksi-instruksi lebih general, dan mengembangkan pendekatan baru untuk relationship designators
Tuesday, March 23, 2021
LRM sebagai Landasan RDA
Library Reference Model (LRM) yang dikembangkan oleh IFLA adalah model konseptual tingkat tinggi yang mengkonsolidasi tiga model sebelumnya, yaitu FRBR, FRAD, dan FRSAD. Harmonisasi ketiga model konseptual tersebut dilakukan dengan mencari commonalities (keumuman) dalam struktur sumber daya bibliografis. Karena merupakan hasil konsolidasi, maka LRM masih mewarisi sejumlah konsep entitas dan relationship dari model sebelumnya, yaitu dengan mempertahankan sejumlah entitas dan melakukan penambahan beberapa entitas baru, seperti Res, Nomen, dan Agent. Selain itu, dilakukan pula perubahan struktur hierarki dan penetapan definisi baru terhadap sejumlah konsep.
Setelah melalui berbagai proses pengujian dan evaluasi, maka telah menjadi kesepakatan internasional bahwa LRM menjadi dasar untuk membuat peraturan pengatalogan dan sistem bibliografi. Namun demikian, model ini tidak terikat pada standar manapun karena tujuannya adalah untuk membuat konsep semantik umum yang tidak ambigu. Dan yang perlu digaris bawahi adalah bahwa LRM ini sangat dipengaruhi oleh teknologi web semantik untuk mengakomodasi kebutuhan komunitas RDA linked data.
Perubahan FRBR menjadi LRM
Ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi perubahan model konseptual dari Functional Requirement for Bibliographic Record (FRBR) ke Library Reference Model (LRM). Jika dirunut ke belakang, pada awalnya IFLA mengembangkan model konseptual FRBR, kemudian dari sini lahir dua model perluasan yaitu FRAD dan FRSAD. Ketiga model ini saling berkaitan erat karena itu sering disebut sebagai FRBR family. Meskipun demikian, ketiga model konseptual ini dikembangkan secara terpisah oleh tim yang berbeda-beda. Dalam penerapannya di perpustakaan, ada beberapa permasalahan pada model konseptual ini, antara lain:
- Kesulitan perpustakaan harus mengaplikasikan 3 model ini secara bersamaan, kemudian muncul pertanyaan bagaimana cara mengintegrasikan model ini dalam satu aplikasi. Tidak ada panduan untuk mengatasi kontradiksi yang ada sehingga menyebabkan intepretasi yang tidak konsisten pada penerapannya.
- Tingkat granularitas elemen data yang berbeda-beda pada masing-masing grup. Sebagai contoh, FRBR terdiri dari 11 entitas, sedangkan FRSAD hanya terdiri dari 1 entitas (thema)
- Adanya perbedaan dalam cara memahami entitas pada masing-masing grup. Sebagai contoh, pada FRBR yang dimaksud entitas person adalah individu real yang masih hidup maupun yang sudah tidak ada, sedangkan pada FRAD yang dimaksud entitas person adalah individu real dan karakter fiktif
Sebelum menjadi LRM sebenarnya sudah FRBR sudah sempat berubah menjadi menjadi FRBRoo (Functional Requirement for Bibliographic Record Object Oriented), untuk mengakomodasi kebutuhan pengatalogan di sektor museum. Perubahan ini terjadi setelah IFLA menerima berbagai masukan dari museum yang disusun dalam dokumen Conceptual Reference Model (CIDOC CRM) for Museum Information. Namun dalam perjalanannya, pemodelan FRBRoo formal masih sulit diterapkan oleh museum karena konsepnya dianggapp masih berlandaskan formalisme FRBR yang dianggap terlalu spesifik. Akhirnya IFLA memutuskan mengubah konsep FRBR menjadi model tingkat tinggi dengan mengedepankan aspek keumuman (commonalities) dalam pendeskripsian agar tidak lagi terlalu spesifik sehingga bisa diterapkan secara optimal oleh museum. Model inilah yang kemudian dinamakan IFLA LRM yang disepakati secara internasional sebagai dasar penyusunan peraturan pengatalogan dan sistem informasi bibliografi, termasuk RDA.
Thursday, September 3, 2020
IFLA LRM: Definisi Tugas Pengguna (User tasks definitions)
In Bahasa Indonesia and English
|
Tugas |
Definisi |
Komentar |
|
Menemukan |
Mendapatkan informasi
mengenai satu atau lebih sumber daya yang diinginkan dengan menggunakan
pencarian pada kriteria yang relevan |
Tugas “menemukan” adalah perihal pencarian. Tujuan pengguna adalah untuk memperoleh satu atau lebih dari contoh-contoh entitas hasil pencarian. Dalam proses pencarian, pengguna dapat menggunakan atribut atau hubungan dari sebuah entitas, atau kombinasi dari sejumlah atribut dan atau hubungan entitas. Untuk membantu menfasilitasi tugas ini, sistem informasi perlu dirancang untuk dapat melakukan pencarian efektif dengan menyediakan elemen-elemen atau fungsionalitas pencarian yang sesuai. |
|
Mengidentifikasi |
Memahami sifat alami
sebuah sumber daya yang ditemukan dan dapat membedakan dengan hasil karya
lain yang memiliki kemiripan |
Tujuan pengguna pada tugas “mengidentifikasi” adalah mengkonfirmasikan entitas yang dideskripsikan cocok dengan contoh dari entitas yang dicari atau untuk membedakan dua atau lebih contoh entitas dengan karakteristik yang mirip. Dalam pencarian “item yang tidak diketahui”, pengguna akan berusaha mengenalinya melalui karakteristik dasar dari hasil karya yang ditampilkan. Untuk memfasilitasi tugas ini, sistem informasi akan berusaha untuk mendeskripsikan secara jelas sumber daya yang dicakupnya. Pendeskripsian harus dapat dikenali dan mudah diintepretasi oleh pengguna. |
|
Memilih |
Menentukan kesesuaian sumber
daya yang ditemukan dan menentukan apakah sumber daya tertentu akan diterima
atau ditolak |
Tugas “menyeleksi” adalah perihal reaksi terhadap opsi-opsi. Tujuan pengguna adalah untuk menentukan pilihan, dari sekian banyak sumber daya yang diperoleh, untuk kemudian ditelusuri lebih jauh. Persyaratan sekunder pengguna atau Batasan mungkin melibatkan aspek konten, audiens, dan lain sebagainya. Untuk memfasilitasi tugas ini, sistem informasi perlu mendukung penilaian berdasarkan relevansi dengan menyediakan informasi yang memadai tentang sumber daya yang ditemukan sehingga pengguna dapat menentukan dan melakukan tindakan selanjutnya. |
|
Mendapatkan |
Mengakses konten sumber
daya |
Tujuan pengguna dalam tugas “mendapatkan” adalah untuk berpindah dari berkonsultasi dengan pengganti menjadi benar-benar berinteraksi dengan sumber daya perpustakaan yang dipilih. Untuk memenuhi tugas ini, sistem informasi perlu menyediakan tautan langsung ke informasi online, atau informasi lokasi untuk fisik sumber daya, serta instruksi dan informasi akses yang diperlukan untuk menyelesaikan transaksi atau pembatasan akses apa pun |
|
Menjelajah |
Untuk menemukan sumber
daya menggunakan hubungan di antara sumber daya dan dengan demikian
menempatkan sumber daya dalam suatu konteks |
Tugas penjelajahan adalah tugas pengguna yang paling terbuka. Pengguna mungkin menjelajah, menghubungkan satu sumber daya ke sumber daya lainnya, membuat koneksi tak terduga, atau membiasakan diri dengan sumber daya yang tersedia untuk penggunaan di masa mendatang. Tugas eksplorasi mengakui pentingnya kebetulan dalam pencarian informasi. Untuk memfasilitasi tugas ini sistem informasi berusaha untuk mendukung penemuan dengan membuat hubungan eksplisit, dengan menyediakan informasi kontekstual dan fungsionalitas navigasi. |
|
Task |
Definition |
Comment |
|
Find |
To bring together information about one or more resources of interest by searching on any relevant criteria |
The find
task is about searching. The user’s goal is to bring together one or more
instances of entities as the result of a search. The user may search using an
attribute or relationship of an entity, or any combination of attributes
and/or relationships. To facilitate this task, the information system seeks
to enable effective searching by offering appropriate search elements or functionality. |
|
Identify |
To clearly understand the nature of the resources found and to distinguish between similar resources |
The user’s goal in the identify task is to confirm that the instance of the entity described corresponds to the instance sought, or to distinguish between two or more instances with similar characteristics. In “unknown item” searches, the user also seeks to recognize the basic characteristics of the resources presented. To facilitate this task, the information system seeks to clearly describe the resources it covers. The description should be recognizable to the user and easily interpreted. |
|
Select |
To determine the suitability of the resources found, and to be enabled to either accept or reject specific resources |
The select task is about reacting to possible options. The user’s goal is to make choices, from among the resources presented, about which of them to pursue further. The user’s secondary requirements or limitations may involve aspects of content, intended audience, etc. To facilitate this task, the information system needs to allow/support relevance judgments by providing sufficient appropriate information about the resources found to allow the user to make this determination and act on it. |
|
Obtain |
To access the content of the resource |
The user’s goal in the obtain task is to move from consulting a surrogate to actually interacting with the library resources selected. To fulfill this task, the information system needs to either provide direct links to online information, or location information for physical resources, as well as any instructions and access information required to complete the transaction or any restrictions on access. |
|
Explore |
To discover resources using the relationships between them and thus place the resources in a context |
The explore task is the most open-ended of the user tasks. The user may be browsing, relating one resource to another, making unexpected connections, or getting familiar with the resources available for future use. The explore task acknowledges the importance of serendipity in information seeking. To facilitate this task the information system seeks to support discovery by making relationships explicit, by providing contextual information and navigation functionality. |
Monday, July 20, 2020
IFLA: COVID-19 and the Global Library Field
- Ensuring access to soap and warm water
- Ensuring they have a supply of hand sanitiser
- Keeping surfaces clean, including toys and library computers
- Ensuring that staff and users are encouraged to take time to recover if they are feeling ill, rather than coming in to work
- Providing pages with useful links to reliable information for users on their websites and promoting media literacy faced with potential misinformation online.
- Reconsidering programming such as storytimes or workshops, especially for groups at risk such as older users. Additional efforts to ensure hygiene, including through disinfecting hard surfaces. Removing riskier items such as toys or virtual reality headsets from circulation.
- Considering whether to close study spaces where people may spend a longer time in the company of others.
- Preparing for potential further restrictions, for example by ensuring that all staff have the skills and tools to work remotely (if this is possible) and that services, as far as possible, can still be provided digitally.
- Fully closing spaces and only offering the possibility to borrow or return books at a counter, or via a book drop. Some countries are experimenting with drive-through pick-up and return of books. Others are only allowing visitors who have pre-booked.
- Implementing quarantine policies on returned books (see below for further details).
- Implementing plans to offer remote services for example eLending, eLearning, or support to remote teaching
- Finalising and testing measures for all staff to work remotely and allowing those who can to do so already.
- Ensuring that all staff working from home unless completely necessary. Where staff are coming into work, ensuring that they can do so while respecting rules around social distancing
- Librarians are being reassigned to other duties in other departments within their municipalities, for example using information management skills to support health and social services
- Providing ongoing communication with users about opportunities to use library resources or services
- Organising digital story-times where copyright permits
- Promoting use of digital libraries and other tools - including potentially investing in more content/licences
- Offering an amnesty on borrowed physical books, and increasing the number of eBooks users can borrow
- Making library spaces and equipment available for other activities, such as printing personal protective equipment.
- Raising awareness of digital offers, both on the front pages of their websites, and through putting up posters in the windows of library buildings.
- Starting to make plans for gradual reopening when rules, permissions and library buildings and resources themselves permit this to happen safely, and making necessary changes to library policies. Carrying out a risk assessment, focused both on library activities and the wider situation, can be a key part of this.
- Setting limits on numbers of people using the library at any one time, and establishing how to enforce these (for example through advanced booking, ticketing, or using other means of counting numbers of users), as well as preventing situations where people may gather closely together, for example using one-way systems, limiting furniture, keeping reading rooms closed, or continuing to postpone programming, and keeping toilets closed
- Implementing regular cleaning processes (including through short closures of the library), especially focused on surfaces where the virus appears to be able to last for longest (plastics, metals other than copper), or at least intensifying clearning
- Developing click-and-collect or drive-through services in order to allow access to books without human contact
- Developing protocols for how to respond if someone with symptoms is identified in the library
- Ensuring that staff have the equipment and training necessary to stay safe, including consideration of screens if necessary, limiting contact as far as possible and enabling work from home for as long as possible, and provide regular updates
- Making clear when it is impossible to open safely, and otherwise ensuring that those taking decisions understand the nature of library spaces, including through a gradual approach to resuming services only when each one is safe
- Continuing to promote online services and resources in order to limit numbers looking to visit the library
- Communicate clearly about all any new rules to library users, both online and onsite, and provide regular updates
- Ensuring that plans are in place for a potential return to lock-down in case of new peaks in infection rates
Wednesday, April 15, 2020
20 Pertanyaan tentang RDA
RDA: Resource Description & Access adalah seperangkat elemen data, panduan, dan instruksi untuk membuat metadata koleksi di perpustakaan dan institusi warisan budaya berdasarkan pemodelan internasional dalam format terbaiknya untuk aplikasi linked data yang berfokus pada pengguna. RDA diterbitkan secara online yang dikenal sebagai RDA Toolkit. RDA Toolkit adalah sebuah produk online berbasis browser yang terintegrasi dan memungkinkan pengguna berinteraksi dengan sumber daya maupun dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pengatalogan. Versi asli dari RDA Toolkit adalah yang standar yang saat ini digunakan dalam pengatalogan. RDA Toolkit terbaru versi beta telah dikerjakan sejak tahun 2017. Informasi lebih detil mengenai RDA Toolkit versi beta dan proses peralihannya dapat dilihat pada Toolkit/3R Project FAQ.
2. Apa tujuan strategis RDA?
RDA dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan:
- Komunitas internasional
- Komunitas warisan budaya
- Komunitas linked data
- American Library Association
- Canadian Federation of Library Associations
- Chartered Institute of Library and Information Professionals
- The American Library Association publishes RDA dengan mengatasnamakan para pemegang hak cipta
- Anggota RSC
- Badan perwakilan regional RDA melalui anggota perwakilan regional masing-masing
- Pengguna RDA, (1) melalui badan perwakilan regional, jika disetujui oleh anggota perwakilan regional masing-masing, (2) melalui Wider Engagement Officer, jika mereka tidak terwakili di di dalam badan perwakilan regional.
- Kelompok kerja RSC melalui ketua RSC
- RSC/Operations/4 -- Policy and Procedures for Updating RDA Content (Kebijakan dan Prosedur Pemutakhiran Konten RDA)
- RSC/Operations/5 -- Guidelines for Proposals, Discussion Papers, and Responses to Them (Panduan Proposal, Makalah Diskusi, dan Respon terhadapnya)
Informasi mengenai riwayat perevisian RDA Toolkit memungkinkan pengguna untuk melacak kembali perubahan-perubahan yang telah dilakukan sekaligus untuk mengakses instruksi-instruksi yang dibuat pada versi awal. Riwayat revisi mempunyai dua komponen, yaitu catatan rilis dan arsip instruksi. RDA Toolkit akan terus menyimpan riwayat perevisian RDA dalam bahasa masing-masing.
9. Apakah 3R Project?
RDA Toolkit Restructure and Redesign (3R) adalah sebuah proyek yang mengkonsolidasikan sejumlah pengembangan baru dalam hal struktur dan konten RDA Toolkit, termasuk implementasi pemodelan dokumen standar untuk pengelolaan konten, pengintegrasian RDA dengan IFLA Library Reference Model (LRM), dan penambahan fitur-fitur personalisasi. Informasi mutakhir mengenai 3R Project dapat dilihat pada blog RDA Toolkit.
Informasi lebih jauh mengenai aspek-aspek proyek ini dapat dilihat pada 3R Project: Update from 2016 Frankfurt Meeting dan Implementation of the LRM in RDA. Daftar pertanyaan yang sering ditanyakan (FAQ) mengenai 3R Project dapat dilihat di sini.
11. Apakah RDA Registry?
13. Bagaimana penerjemahan RDA dikelola?
- Penerjemahan penuh untuk seluruh data dan instruksi RDA Reference yang dipublikasikan dalam RDA Toolkit dan RDA Registry
- Penerjemahan sebagian untuk data RDA Reference yang hanya dipublikasikan dalam RDA Registry.
- Arab
- Katalonia
- Finlandia
- Perancis
- Jerman
- Hongaria
- Italia
- Norwegia
- Spanyol
- Denmark
- Belanda
- Estonia
- Yunani
- Swedia
Thursday, March 12, 2020
IFLA LRM Relationship Overview

IFLA LRM Relationship Hierarchy
|
|||
Top Level
|
Second Level
|
||
LRM-R1
|
RES is associated with RES
|
||
--
|
LRM-R2
|
WORK is realized through EXPRESSION
|
|
--
|
LRM-R3
|
EXPRESSION is embodied in MANIFESTATION
|
|
--
|
LRM-R4
|
MANIFESTATION is exemplified by ITEM
|
|
--
|
LRM-R5
|
WORK was created by AGENT
|
|
--
|
LRM-R6
|
EXPRESSION was created by AGENT
|
|
--
|
LRM-R7
|
MANIFESTATION was created by AGENT
|
|
--
|
LRM-R8
|
MANIFESTATION was manufactured by AGENT
|
|
--
|
LRM-R9
|
MANIFESTATION is distributed by AGENT
|
|
--
|
LRM-R10
|
ITEM is owned by AGENT
|
|
--
|
LRM-R11
|
ITEM was modified by AGENT
|
|
--
|
LRM-R12
|
WORK has as subject RES
|
|
--
|
LRM-R13
|
RES has appellation NOMEN
|
|
--
|
LRM-R14
|
AGENT assigned NOMEN
|
|
--
|
LRM-R15
|
NOMEN is equivalent to NOMEN
|
|
--
|
LRM-R16
|
NOMEN has part NOMEN
|
|
--
|
LRM-R17
|
NOMEN is derivation of NOMEN
|
|
--
|
LRM-R18
|
WORK has part WORK
|
|
--
|
LRM-R19
|
WORK precedes WORK
|
|
--
|
LRM-R20
|
WORK accompanies / complements WORK
|
|
--
|
LRM-R21
|
WORK is inspiration for WORK
|
|
--
|
LRM-R22
|
WORK is a transformation of WORK
|
|
--
|
LRM-R23
|
EXPRESSION has part EXPRESSION
|
|
--
|
LRM-R24
|
EXPRESSION is derivation of EXPRESSION
|
|
--
|
LRM-R25
|
EXPRESSION was aggregated by EXPRESSION
|
|
--
|
LRM-R26
|
MANIFESTATION has part MANIFESTATION
|
|
--
|
LRM-R27
|
MANIFESTATION has reproduction MANIFESTATION
|
|
--
|
LRM-R28
|
ITEM has reproduction MANIFESTATION
|
|
--
|
LRM-R29
|
MANIFESTATION has alternate MANIFESTATION
|
|
--
|
LRM-R30
|
AGENT is member of COLLECTIVE AGENT
|
|
--
|
LRM-R31
|
COLLECTIVE AGENT has part COLLECTIVE AGENT
|
|
--
|
LRM-R32
|
COLLECTIVE AGENT precedes COLLECTIVE AGENT
|
|
--
|
LRM-R33
|
RES has association with PLACE
|
|
--
|
LRM-R34
|
PLACE has part PLACE
|
|
--
|
LRM-R35
|
RES has association with TIME-SPAN
|
|
--
|
LRM-R36
|
TIME-SPAN has part TIME-SPAN
|
|







